Home » Tafsir » Signifikansi Konteks (siyāq) dalam Tafsir

Signifikansi Konteks (siyāq) dalam Tafsir

I. Pendahuluan

Suatu ayat dapat memperjelas maksud ayat lain dalam surat yang sama atau surat yang lain. Bahkan satu kalimat dapat memperjelas kalimat lain dalam ayat yang sama. Sebab, pada dasarnya al-Qur`an merupakan rangkain kalimat dalam sebuah wacana yang memiliki kesatuan tema dan maksud. Tiap kata yang membentuk satu kalimat dalam al-Qur`an saling terkait satu sama lain dan menggambarkan maksud utuh dari kalimat tersebut. Bagian-bagian dalam kalimat itu dapat mendukung dan memperjelas makna bagian lain. Demikian pula pada tingkat wacana. Rangkaian kalimat yang membentuk wacana merupakan satu kesatuan tema dan maksud. Masing-masing kalimat tidak akan menggambarkan maksud yang utuh jika dipahami secara terpisah.

Itulah yang dimaksud menafsirkan al-Qur`an dengan al-Qur`an. Seorang mufassir dapat mengetahui maksud suatu ayat dengan memperhatikan bagian lain dari ayat tersebut atau ayat lain. Salah satu intsrumen yang dapat mempertajam penafsiran al-Qur`an dengan al-Qur`an adalah pemahaman terhadap konteks atau siyāq. Al-Qur`an tidak dapat dipahami hanya dengan mengandalkan pendekatan leksikal sembari mengabaikan petunjuk konteks. Bahkan al-Zarkashi mengatakan, “seyogyanya perhatian seorang mufassir ditujukan pada konteks susunan kalimat (نَظْمِ الْكَلَامِ الَّذِي سِيقَ لَهُ), meskipun tidak sesuai dengan makna leksikalnya”[1].

Sejauh ini para ulama telah mencurahkan pikirannya demi membangun dan mengembangkan kaidah tafsir untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam menafsirkan al-Qur`an. Salah satu bagian terpenting dalam kaidah tersebut adalah kaidah yang terkait dengan konteks.

Makalah ini akan membahas kaidah tafsir yang berkaitan dengan konteks. Pembahasan akan diawali dengan mengupas pengertian kaidah tafsir dan konteks. Selanjutnya pembahasan akan difokuskan pada basis legitimasi dan signifikansi konteks dalam penafsiran al-Qur`an. Bagian inti dari makalah ini adalah pembahasan tentang kaidah tafsir yang terkait dengan konteks dengan menyertakan contoh aplikatifnya dalam tafsir. Wa Allah al-Must’ān.

II. Pengertian Kaidah Tafsir dan Konteks (Konteks)

A. Pengertian Kaidah Tafsir

Secara etimologis kaidah (qā`idah) tafsir (tafsīr) terdiri dari dua kata, yaitu kaidah dan tafsir. Kaidah artinya pondasi atau penyangga[2]. Sedangkan tafsir artinya penjelasan, pengugkapan makna, atau pengungkapan sesuatu yang tertutup[3].

Secara terminologis kaidah adalah proposisi universal yang mencakup hukum-hukum partikularnya[4]. Demikian Abu al-Baqa’ mendefinisikannya. Definisi lain yang disebutkan para ulama secara substansial sama dengan definisi di atas, hanya berbeda redaksi. Ibnu al-Najjar mendefinisikan kaidah sebagai proposisi universal yang hukumnya berlaku pada banyak proposisi partikular[5].

Dengan demikian kaidah harus berupa pernyataan universal yang berlaku pada seluruh bagian-bagian partikularnya. Contoh: dalam  ilmu nawu terdapat kaidah fā’il dibaca rafa’. Berarti seluruh kata yang berkedudukan sebagai fā’il pasti dibaca rafa’. Dalam fikih terdapat kaidah “asal” yang salah satunya berbunyi, status asal seseorang adalah tidak bersalah hingga terbukti secara meyakinkan bahwa ia bersalah (al-al al-barā`ah). Dengan demikian semua orang dihukumi tidak bersalah sampai terbukti bersalah.

Namun berdasarkan fakta, banyak kaidah tidak berlaku pada seluruh bagian-bagian partikularnya. Misalnya: dalam kaidah arf dikemukakan bahwa setiap pola  اِسْتَفْعَلَyang mu’tall al-‘Ayn[6], harakat huruf illat harus dipindahkan ke huruf sebelumnya dan huruf illat tersebut diganti dengan alif. Misalnya, اِسْتَقْوَمَ menjadi اِسْتَقَامَFaktanya terdapat اِسْتَحْوَذَ, seperti dalam al-Qur`an:

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ (المجادلة:19)

Sesuai kaidah di atas seharusnya اِسْتَحْوَذَ berubah menjadi اِسْتَحَاذَBahkan Abu al-Fath memasukkan kasus اِسْتَحْوَذَ dalam kategori “banyak berlaku tapi tidak sesuai kaidah”[7].

Berdasarkan penuturan di atas, kaidah yang didefinisikan sebagai bersifat universal pada hakikatnya selalu memiliki pengecualian.

Sedangkan tafsir secara terminologis didefinisikan Ibnu Ashur sebagai “… ilmu yang membahas tentang penjelasan makna dari kata-kata al-Qur`an dan kesimpulan yang didapat dari kata-kata tersebut, baik secara ringkas maupun panjang lebar”[8]. Menurutnya, obyek material tafsir adalah kata-kata dalam al-Qur`an dari sudut makna dan kesimpulan yang dikandungnya[9].

Dengan demikian yang dimaksud dengan kaidah tafsir adalah hukum-hukum universal yang menjadi landasan dalam memahami dan menyimpulkan kata-kata al-Qur`an.

B. Pengertian Konteks

Secara etimoloogis siyāq (konteks) merupakan bentuk madar dari sāqa yasūqu yang artinya menggiring. Insāqat artiya beriringan. Sīqah artinya ternak yang digiring. Sūq artinya pasar karena banyak barang yang digiring ke tempat tersebut. Mahar disebut sawq atau siyāq karena orang Arab ketika menikah menggiring onta dan kambing sebagai mahar[10].

Meskipun siyāq banyak dibicarakan dalam berbagai disiplin ilmu, namun dalam kitab-kitab klasik tidak ditemukan pembahasan yang secara khusus mendefinisikan siyāq. Ibnu Daqīq al-‘īd (w. 702 H.) menjelaskan siyāq ketika membahas takhṣīs dengan sabab al-nuzūl. Ia mengatakan, “…siyāadalah hal yang menunjukkan maksud pembicaraan seseorang”[11]. Dalam pembahasan yang berbeda, Al-Bannani (w. 1198 H.) menjelaskan pengertian siyāq sebagai “… hal yang menunjukkan maksud pembicara, baik berupa kalimat yang sebelumnya atau sesudahnya …”[12]. Sedangkan al-‘Attar dalam pembahasan yang lain pula mendefinisikan konteks sebagai “… hal yang menjadi maksud disusunnya suatu kalimat”[13].

Berdasarkan penjelasan di atas, siyāq dapat didefinisikan sebagai rangkaian dan koherensi kalimat atau situasi pembicaraan yang dapat menujukkan atau memperjelas maksud pembicara. siyāq yang didasarkan pada rangkaian kalimat disebut siyāq lughawī atau konteks bahasa. Sedangkan siyāq yang didasarkan pada situasi pembiaraan disebut dengan siyāq al-ḥāl atau konteks situasi.

Yang dimaksud siyāq dalam makalah ini adalah siyāq lughawī. Dan yang dimaksud Tafsir siyāqī (tafsir dengan memperhatikan konteks bahasa) adalah penafsiran ayat dengan mempertimbangkan ayat atau lafa sebelumnya atau sesudahnya sebagai satu kesatuan yang mencerminkan maksud utuh dari ayat tersebut.

Selanjutanya dalam makalah ini akan digunakan kata konteks untuk menunjuk siyāq.

III. Dasar dan Signifikansi Penggunaan Konteks dalam Penafsiran al-Qur’an

Seperti telah dikemukakan di atas, pada tataran teoritis konteks telah mendapatkan perhatian ulama sekurang-kurangnya sejak masa Syafi’i. Tetapi pada tataran praktis konteks telah diterapkan sejak masa Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam.

Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam memiliki otoritas penuh dalam menafsirkan al-Quran meskipun tanpa menyertakan argumentasinya. Tetapi dalam beberapa kasus Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam melakukan penafsiran dengan menyertakan argumentasi yang digunakannya. Salah satunya adalah penafsiran dengan dasar konteks [14]. Tirmidhi meriwayatkan:

أَنَّ عَائِشَةَ، زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الآيَةِ: {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} [المؤمنون: 60] قَالَتْ عَائِشَةُ: أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ؟ قَالَ: ” لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا تُقْبَلَ مِنْهُمْ {أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ} [المؤمنون: 61][15]

Aisyah, istri Nabi alla Allah ‘Alaihy wa Sallam berkata, “aku bertanya Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam  tentang ayat ini( وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ), apakah  mereka (yang dimaksud dalam ayat ini — penulis) adalah orang-orang yang meminum arak dan mencuri?”.  Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam menjawab, “bukan, putri al-Ṣiddīq. Tetapi mereka adalah orang-orang yang melakukan puasa, shalat dan bersedekah sembari kuatir amal-amalnya tidak diterima.( أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ).

Pada hadis di atas Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam menjelaskan ayat al-Mu`minūn ayat 60 dengan merujuk pada ayat al-Mu`minūn ayat 61.

Penggunaan konteks dalam tafsir juga dilakukan sahabat[16]. Thabari meriwayatkan:

عن يُسَيْع الحضرمي قال: كنت عند علي بن أبي طالب رضوان الله عليه، فقال رجل: يا أمير المؤمنين، أرأيت قول الله: {ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا} [النساء: 141] ، وهم يقاتلوننا فيظهرون ويقتلون؟ قال له عليّ: ادْنُه، ادْنُهْ! ثم قال: {فالله يحكم بينكم يوم القيامة ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا} [النساء: 141] ، يوم القيامة[17].

Yusai’ al-Hadlrami bercerita bahwa ia bersama Ali bin Abi Thalib, alu datanglah seorang laki-laki berkata, “wahai Amirul Mu’minin, apa pendapatmu tentang firman Allah, (ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا), padahal mereka memerangi kita, memenanginya dan membunuhi kita?”. Ali menjawab, “kemarilah, kemarilah”. Lalu Ali berkata” يوم القيامة (فالله يحكم بينكم يوم القيامة ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا)”

Pada riwayat di atas Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa yang dimaksud “… Allah tidak akan memberikan jalan bagi orang kafir atas orang mu’min” adalah kelak di hari kiamat, bukan sekarang di dunia. Penjelasan itu mengacu pada kalimat sebelumnya, yaitu: “… Allah akan memberikan keputusan di antara kamu di hari kiamat …”.

Kedua riwayat di atas menjadi basis legitimasi penggunaan konteks dalam tafsir. Lebih dari itu ulama menempatkan konteks sebagai salah satu instrumen terpenting dalam penafsiran al-Qur`an. Muslim bin yasar berkata, “Jika engkau menceritakan sesuatu dari Allah, maka berhentilah hingga engkau mencari tahu apa yang sebelum dan sesudahnya”[18]. Dengan kata lain, penfasiran suatu ayat harus dilihat dalam satu rangkaian dengan ayat, kalimat atau kata yang sebelum dan sesudahnya.

Signifikansi konteks juga disinggung al-Shatibi (w. 790 H). Menurutnya, mempertimbangkan konteks dalam menentukan pengertian kalimat adalah hal niscaya. Ia mencontohkan, kalimat “Si fulan adalah macan”, “Si fulan adalah keledai” atau “Si fulan besar abunya” akan menjadi kalimat yang lucu dan menjadi bahan tertawaan, jika dipahami tanpa melibatkan konteks. Sebuah kalimat tidak akan memiliki makna yang berarti, jika ia dipahami terlepas dari konteks. Dalam format kalimat tanya al-Shatibi menegaskan bahwa jika konteks menempati posisi sentral dalam memahami ucapan manusia, maka tentu konteks juga memiliki peran signifikan dalam memahami firman Allah dan Sabda Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam[19].

Lebih jauh al-Shatibi mengatakan bahwa seseorang yang hendak memahami suatu ungkapan haruslah memperhatikan bagian awal dan akhir dari ungkapan tersebut dalam satu kesatuan wacana serta situasi yang menyertainya. Bagian awal tidak dapat dipahami tanpa memperhatikan bagian akhir, demikian pula sebaliknya. Meskipun suatu wacana terdiri dari beberapa ungkapan, tetapi sesungguhnya masing-masing ungkapan saling terkait dan membentuk satu kesatuan. Karena itu seseorang yang ingin memahami ungkapan shāri’ harus mengkaitkan bagian akhir dengan bagian awal, demikian pula bagian awal dengan bagian akhir. Dengan cara itulah maksud shāri; dapat ditangkap seorang mukallaf. Jika bagian-bagian itu dilihat secara terpisah, maka ia tidak akan mencapai maksud tersebut[20].

Dalam kajian ushul fikih, al-Shatibi bukanlah orang pertama yang memandang signifikansi konteks. Pendiri mazhab Shafi’iyah, Muhammad bin Idris al-Shafi’I (w. 204 H) dalam al-Risālah bahkan membuat bab khusus tentang kategori kalimat di mana konteks menjelaskan makna kalimat tersebut. Ia mencontohkannya dengan ayat berikut:

وَاسْأَلْهُمْ عَنْ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا، وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ. كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.

Dalam ayat tersebut pertama-tama Allah memerintahkan untuk bertanya kepada Bani Israil tentang suatu desa yang terletak di dekat laut. Ketika kemudian Allah melanjutkan firman-Nya dengan “… ketika mereka melanggar aturan pada hari sabtu…”, maka diketahui bahwa yang dimaksud “desa” adalah “penduduk desa”[21]. Dengan demikian berdasarkan konteks ayat, firman Allah di atas ditafsirkan sebagai berikut, “Tanyakanlah kepada Bani Israil tentang penduduk desa ketika mereka melanggar aturan hari sabtu”.

Signifikansi kontkes juga ditekankan Al-Zarkashi. Ia mengatakan, “seyogyanya perhatian seorang mufassir ditujukan pada konteks susunan kalimat (نَظْمِ الْكَلَامِ الَّذِي سِيقَ لَهُ), meskipun berbeda dari makna leksikalnya”[22]. Al-Zarkashi juga mengkritik orang-orang yang menolak signifikansi konteks. Menurutnya, keberlakuan petunjuk konteks dalam firman Allah adalah hal yang disepakati[23]

Senada dengan al-Zarkashi, Al-Suyuthi menyatakan bahwa salah satu sarat menjadi seorang mufassir adalah, “… memperhatikan susunan dan tujuan suatu kalimat”[24]. Pada tataran praktis penggunaan kontkes kalimat untuk menentukan makna juga dilakukan para mufassirin. Ibnu Atiyyah, misalnya, menolak sautu penafsiran dengan alasan tidak sesuai dengan konteks kalimat. Ketika menafsirkan ayat:

وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ (البقرة: 93)

ia mengatakan bahwa makna وَأُشْرِبُوا adalah meresapkan. Ia juga mengutip pendapat ulama yang mengatakan bahwa kata tersebut bermakna minum. Kemudian ia menolak pendapat terakhir dengan mengatakan, “… pendapat ini dimentahkan dengan firman Allah, فِي قُلُوبِهِمُ”[25]. Dengan kata lain, Ibnu Atiyyah mengatakan bahwa dengan mempertimbangkan konteks, kata وَأُشْرِبُوا tidak mungkin diartikan minum.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan konteks dalam tafsir memiliki landasan yang kuat, sebagaimana dicontohkan Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam dan sahabat, bahkan menjadi keniscayaan dalam memahami makna al-Qur`an secara utuh.

IV. Konteks Bahasa dalam Kaidah Tafsir

Pada dasarnya kaidah tafsir yang terkait dengan konteks merupakan penjabaran implementatif dari fungsi-fungsi konteks. Menjelaskan fungsi konteks Izzuddin Ibnu Abdissalam sebagaimana dikutip al-Zarkashi mengatakan,

Konteks dapat memperjelas hal yang masih global, menetapkan satu makna diantara berbagai kemungkinan makna dan menguatkan hal yang sudah jelas. Semua fungsi tersebut diimplementasikan berdasarkan kelaziman. Oleh karena itu setiap sifat yang disusun dalam konteks pujian, maka ia bermakna pujian, meskipun secara leksikal bermakna celaan. Dan semua sifat yang disusun dalam konteks celaan, maka ia bermakna celaan, meskipun secara leksikal bermakna pujian, seperti firman Allah: {ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ} [الدخان: 49].[26]

Dari uraian Izzuddin dapat disimpulkan tiga fungsi konteks, yaitu: (1) memperjelas hal yang masih global, (2) menetapkan salah satu makna di antara berbagai kemungkinan makna, (3) menguatkan hal yang sudah jelas.

Di samping tiga fungsi di atas, terdapat tiga fungsi lain, sebagaimana dikemukakan Ibnu Qayyim, yaitu: (1) membatasi cakupan kalimat yang general (takhṣīṣ al-‘ām), (2) membatasi kalimat absolut (taqyīd al-muṭlaq), (3) menganeka-ragamkan makna[27].

Enam fungsi ini bermuara pada satu kaidah, yaitu: konteks kalimat menjelaskan maksud pembicara. Dari kaidah ini dikembangkan kaidah-kaidah lain yang berkaitan dengan konteks. Berikut kaidah tafsir yang berhubungan dengan konteks bahasa.

A. Suatu penafsiran tidak boleh bertentangan dengan makna kontekstualnya

Membelokkan suatu kalimat dari makna kontekstualnya dapat mengakibatkan pertentangan dengan maksud yang dikehendaki pembicara. Sebab, konteks dapat mengungkap apa yang tersembunyi dari sebuah kalimat. Kaidah ini ditegaskan Ibnu Taimiyah. Menurutnya, makna suatu kalimat didasarkan pada kontkesnya, baik konteks bahasa maupun situasi[28]. Hal yang sama juga diungkapkan al-Thabari dalam tafsirnya. Ia katakan, “tidak boleh membelokkan kalimat dari makna konstektualnya kecuali dengan dalil yang dapat diterima, baik berupa makna asosiatif ayat atau hadis Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam…”[29].

Atas dasar hal tersebut, setiap penafsiran yang tidak sesuai dengan makna kontekstualnya tidak dapat diterima. Al-Thabari menerapkan kaidah ini ketika menafsirkan ayat:

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا (النساء:159)

Tidak ada seorangpun dari ahli kitab, kecuali akan beriman kepadanya sebelum kematiannya. dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.

Mula-mula al-Thabari menegemukakan dua pendapat. Yang pertama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kata ganti ”nya” dalam “beriman kepadanya” adalah Nabi Isa Alayhi al-Salām. Pendapat kedua mengatakan Nabi Muhammad alla Allah ‘Alaihy wa Sallam. Kemudian ia memilih pendapat pertama dan menolak pendapat kedua dengan alasan bahwa pendapat kedua tidak didukung konteks. Sebab, konteks ayat tersebut membicarakan nabi Isa Alayhi al-Salām dan ibunya[30].

B. Konteks dapat membatasi  cakupan kalimat general (takhṣīṣ al-‘Ām)

Jika suatu ayat menunjukkan makna general, tetapi konteksnya mengindikasikan pembatasan, maka cakupan makna ayat dibatasi oleh konteksnya. Al-Shaukani dalam Irshād al-Fuḥūl membuat sub bab yang berjudul, “al-Takhṣīṣ bi al-Siyāq”. Ia mengutip Ibnu Daqīq al-Īd yang menyatakan bahwa kalimat general dapat dibatasi oleh konteksnya. Hal itu dibuktikan dengan perbincangan manusia di mana terkadang mereka memastikan tidak ada kesan generalitas dalam suatu perkataan yang bermakna general karena konteks mengindikasikan ketiadaan generalitas. Dalam teks al-Qur`an dan hadis juga berlaku demikian. Sebab, keduanya merupakan komunikasi yang ditujukan kepada manusia sesuai dengan adat dan kebiasaan bahasa yang berlaku di atanra mereka[31].

Kaidah ini dapat diterapkan pada penafsiran[32] surat al-Aḥzāb ayat 33:

… إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا …

Pengertian ahlu al-bayt (keluarga) pada ayat tersebut bersifat general yang mencakup anak dan istri. Berdasarkan generalitas ayat, maka seluruh anak dan istri Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam masuk dalam kategori orang-orang yang dibersihkan dan disucikan. Tetapi konteks ayat mengindikasikan bahwa yang dimaksud ahlu al-bayt adalah istri-istri Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam. Sebab ayat sebelum dan sesudahnya memang berbicara tentang mereka.

Sejak ayat 28 tema telah beralih membicarakan istri-istri Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam. Bahkan permulaan ayat 33 juga membicarakan hal yang sama. Setelah menyebutkan ahlu al-bayt ayat 34 kembali membicarakan istri-istri Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam. Jadi, jika ahlu al-bayt pada ayat 33 ditafsirkan dalam pengertian general, maka koherensi antar ayat menjadi terganggu. Berikut ayat ­al-Aḥzāb dari 28 hingga 34:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28) وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا (29) يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30) وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا (31) يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا (32) وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33) وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا (34)

C. Konteks menentukan tautan ḍamīr Ghā`ib (kata ganti orang ketiga)

Kata ganti dalam kalimat Arab lazim digunakan untuk mempersingkat dan menghindari pengulangan. Jika yang digunakan adalah kata ganti orang ketiga, maka dibutuhkan penjelas untuk mengetahui tautan (marji’) kata ganti tersebut. Abu Hayyan berkata, “kata ganti orang pertama dan kedua dapat diketahui tautannya berdasarkan pengamatan langsung. Sedangkan kata ganti orang ketiga tidak mungkin diketahui dari pengamatan, dan karenanya memerlukan penjelas tautan kata ganti tersebut”[33].

Pada dasarnya penjelas tautan merupakan kata terdekat, kecuali jika konteks mengindikasikan berbeda. Misalnya, pada al-‘Ankabūt ayat 27:

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ …

Berdasarkan kedekatannya tautan kata ganti pada ذُرِّيَّتِهِ adalah إِسْحَاقَ atau يَعْقُوبَ. Tetapi konteks ayat berbicara tentang Ibrahim Alayhi al-Salām, sehingga tautan kata ganti ذُرِّيَّتِهِ adalah Ibrahim Alayhi al-Salām[34].

Ibnu Ashur juga mendasarkan pendapatnya pada konteks ketika menentukan tautan kata ganti pada surat Yunus ayat 58:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (58)

Menurutnya, berdasarkan konteks kata ganti pada فَلْيَفْرَحُوا bertaut dengan  لِلْمُؤْمِنِينَ dan يَجْمَعُونَ dengan النَّاسُ pada ayat sebelumnya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)

Dan tidak mungkin keduanya bertaut pada لِلْمُؤْمِنِينَ. Sebab, konteks kalimat menentukan tautan beberapa kata ganti yang serupa sesuai peruntukannya, seperti sair Abbas bin Mirdas:

عُدْنَا وَلَوْلَا نَحْنُ أَحْدَقَ جَمْعُهُمْ … بِالْمُسْلِمِينَ وَأَحْرَزُوا مَا جَمَعُوا

di mana  tautan kata ganti وَأَحْرَزُوا adalah orang-orang musyrik sebagaimana tautan جَمْعُهُمْ, sedangkan tautan جَمَعُوا adalah kaum muslimin[35].

Tiga kaidah di atas hanyalah sebagian dari banyak kaidah tafsir yang berhubungan dengan konteks. Tetapi semuanya kembali kepada enam fungsi konteks seperti telah dikemuakan di atas.

V. Kesimpulan

Konteks dapat diartikan rangkaian dan koherensi kalimat atau situasi pembicaraan yang dapat menujukkan atau memperjelas maksud pembicara. Konteks sebagai salah satu instrumen tafsir telah menjadi kajian ulama setidaknya sejak masa al-Syafi’i. Bahkan praktik penggunaan konteks dalam tafsir telah dilakukan Rasulullah alla Allah ‘Alaihy wa Sallam dan para sahabatnya.

Ada 6 fungsi konteks sebagai penjelas makna, yaitu: (1) memperjelas hal yang masih global, (2) menetapkan salah satu makna di antara berbagai kemungkinan makna, (3) menguatkan hal yang sudah jelas, (4) membatasi cakupan kalimat yang general (takhṣīṣ al-‘ām), (5) membatasi kalimat absolut (taqyīd al-muṭlaq), (6) menganeka-ragamkan makna.

Enam fungsi ini kemudian dijabarkan menjadi banyak kaidah tafsir, di antaranya adalah: “Suatu penafsiran tidak boleh bertentangan dengan makna kontekstualnya”, Konteks dapat membatasi  cakupan kalimat general (takhṣīṣ al-‘Ām), Konteks menentukan tautan ḍamīr Ghā`ib (kata ganti orang ketiga).©2013

[1] Abu Abdillah Badruddin Muhammad bin Abdillah al-Zarkashi, al-Burhān fi ‘Ulūm al-Qur`an, (Cairo:Dār Ihyā` al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1957), 1:137.

[2] Muhammad bin Mukarrom Abul Fadlal Jamaluddin Ibnu Mandzur, Lisān al-‘Arab, (Beirut: Dār Ṣaādir, 1414 H), 3:361.

[3] Ibid, 5:55.

[4] Ayyub bin Musa al-Husaini Abu al-Baqa’, al-Kulliyyāt Mu’jam fi al-Mutalaḥāt wa al-Furūq al-Lughawiyah, (Beirut: Mu’assasāt al-Risālah, tth), 728.

[5] Taqiyyuddin Abu al-Baqa’ Muhammad bin Ahmad Ibnu al-Najjar, Sharh al-Kawkab al-Munīr, (Riyadl: Maktabat a;-‘Abīkān, 1997),  1:30.

[6] Huruf pokok kedua berupa huruf illat, yakni: wawu dan ya’ dan alif.

[7] Abu al-Fath Uthman bin Jani, al-Khaṣā`i, (Cairo: al-Hay`ah al-Maṣriyah al-‘Āmmah li al-Kitāb, tth), 1:99.

[8] Muhammad al-Thahir bin Muhammad Ibnu Ashur, al-Tahrīr wa al-Tanwīr, (Tunisia: Dār al-Tunisiyah, 1984), 1:11.

[9] Ibid, 1:12.

[10] Lihat Muhammad bin Mukarrom Abul Fadlal Jamaluddin Ibnu Mandzur, Lisān al-‘Arab, 10:166-168.

[11] Ibnu Daqīq al-“Īd, ikām al-Akām Shar ‘Umdat al-Akām, (Cairo: Maktabah al-Sunnah, 1994), 2:21.

[12] Abdurrahman bin Jadullah al-Bannani, Ḥāshiyat al-Bannānī ‘Ala Sharḥ al-Jalāl al-Maḥallī Ala Jam’i al-Jawāmi’, (Beirut:Dār al-Fikr, tth),1:20

[13] Hasan bin Muhammad bin Mahmud Al-‘Attar,  Ḥāshiyat al-‘Aṭṭār ‘Ala Sharḥ al-Jalāl al-Maḥallī Ala Jam’i al-Jawāmi’, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiiyah, tth), 1:320.

[14] Abdurrahman Abdullah al-Muṭīrī, “al-Siyāq al-Qur`anī wa Atharuhu fi al-Tafsīr”, (Tesis – Jami’ah Ummul Qura, Makkah, 2008), 78.

[15] Abu Isa al-Tirmidhi, Sunan al-Tirmidhī, (Cairo: Musṭafa al-Babī al-ḥalabī, 1975),  5:327-328.

[16] Abdurrahman Abdullah al-Muṭīrī, “al-Siyāq al-Qur`anī”, 85.

[17] Muhammad Ibnu Jarir Abu Ja’far al-Thabari, Jāmi’ al-Bayān fi Ta`wīl al-Qur`an, (Cairo:Muassasat al-Risalah, 2000), 9:327. Lihat pula, Ibnu Abi Hatim,  Tafsīr al-Qur`an al-‘Aẓim li Ibni Abi Ḥātim, (Riyadl: Nizar Musthafa al-Baz, 1419 H), 4:1095

[18] Abu al-Fida` Ismail Ibnu Kathir, Tafsīr al-Qur`an al-Aẓīm, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1419 H), 1:14.

[19] Ibrahim bin Musa al-Shātibī, al-Muwāfaqāt, (Cairo: Dār Ibnu Affan, 1997), 3:419-420.

[20] Ibid, 4:266.

[21] Abu Abdillah Muhammad bin Idris al-Shāfi’ī, al-Risālah, (Cairo:Maktabah al-Ḥalabī, 1940), 62.

[22] Abu Abdillah Badruddin Muhammad bin Abdillah al-Zarkashi, al-Burhān fi ‘Ulūm al-Qur`an, 1:137.

[23] Abu Abdillah Badruddin Muhammad bin Abdillah al-Zarkashi, al-Bar al-Mui fi Uṣūl al-Fiqh, (Beirut: Dār al-Kutub, 1994), 8:54.

[24] Abdurrahman bin Abu Bakar Jalaluddin al-Suyuthi, al-Itqān fi ‘Ulūm al-Qur`an, (Cairo:al-Hay`ah al-‘Ammāh li al-Kitāb, 1974), 4:227.

[25] Abu Muhammad Abdul Haq bin Ghalib Ibnu Atiyyah, al-Muḥarrar al-Wajīz fi Tafsīr al-Kitāb al-‘Azīz, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1422 H.),1:180

[26] Abu Abdillah Badruddin Muhammad bin Abdillah al-Zarkashi, al-Bar al-Mui fi Uṣūl al-Fiqh, 8:55.

[27] Lihat, Muhammad bin Abi Bakar Syamsuddin Ibnu Qayyim,  Badā`i’ al-Fawā`id, (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, tth), 4:9.

[28] Taqiyyuddin Abul Abbas Ibnu Taimiyah, Majmū’ al-Fatāwa, (Madinah: Majma’ al-Malik Fahd, 1995), 6:14.

[29] Muhammad Ibnu Jarir Abu Ja’far al-Thabari, Jāmi’ al-Bayān fi Ta`wīl al-Qur`an, 9:389.

[30] Ibid.

[31] Muhammad bin Ali bin Abdillah al-Shaukani, Irshād al-Fuḥūl Ila Taḥqīq al-Haqq min ‘Ilm al-Uṣūl, (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1999), 1:397. Lihat pula, Abu Abdillah Badruddin Muhammad bin Abdillah al-Zarkashi, al-Bar al-Mui fi Uṣūl al-Fiqh, 4:503.

[32] Lihat, Muhammad al-Thahir bin Muhammad Ibnu Ashur, al-Tahrīr wa al-Tanwīr, 14:22. Lihat pula, Muhammad bin Ali bin Abdillah al-Shaukani, Fatḥ al-Qadīr, (Damaskus: Dār Ibnu Kathir, 1414 H), 4:321-323.

[33] Abu Hayyan al-Andalusi, al-Tadhyīl wa al-Takmīi fi Sharḥ kitāb al-Tashīl, (Damaskus: Dār al-Qalam, 1998), 2:252

[34] Ibid.

[35] Muhammad al-Thahir bin Muhammad Ibnu Ashur, al-Tahrīr wa al-Tanwīr, 1:205.

——————————————————————————————————-

Bibliografi

Abu al-Baqa’, Ayyub bin Musa al-Husaini, al-Kulliyyāt Mu’jam fi al-Muṣtalaḥāt wa al-Furūq al-Lughawiyah, Beirut, Mu’assasāt al-Risālah, tth

al-Andalusi, Abu Hayyan, al-Tadhyīl wa al-Takmīi fi Sharḥ kitāb al-Tashīl, Damaskus, Dār al-Qalam, 1998

Al-‘Attar , Hasan bin Muhammad bin Mahmud,  Ḥāshiyat al-‘Aṭṭār ‘Ala Sharḥ al-Jalāl al-Maḥallī Ala Jam’i al-Jawāmi’, Beirut, Dār al-Kutub al-‘Ilmiiyah, tth

al-Bannani, Abdurrahman bin Jadullah, Ḥāshiyat al-Bannānī ‘Ala Sharḥ al-Jalāl al-Maḥallī Ala Jam’i al-Jawāmi’, Beirut, Dār al-Fikr, tth

Hatim, Ibnu Abi,  Tafsīr al-Qur`an al-‘Aẓim li Ibni Abi Ḥātim, Riyadl, Nizar Musthafa al-Baz, 1419 H

Ibnu Ashur Muhammad al-Thahir bin Muhammad, al-Tahrīr wa al-Tanwīr, Tunisia, Dār al-Tunisiyah, 1984

Ibnu Atiyyah, Abu Muhammad Abdul Haq bin Ghalib, al-Muḥarrar al-Wajīz fi Tafsīr al-Kitāb al-Azīz, Beirut, Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1422 H.

Ibnu Kathir Abu al-Fida` Ismail, Tafsīr al-Qur`an al-Aẓīm, Beirut, Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1419 H

Ibnu Mandzur, Muhammad bin Mukarrom Abul Fadlal Jamaluddin, Lisān al-‘Arab,  Beirut, Dār Ṣaādir, 1414 H

Ibnu al-Najjar, Taqiyyuddin Abu al-Baqa’ Muhammad bin Ahmad, Sharh al-Kawkab al-Munīr, Riyadl, Maktabat al-‘Abīkān, 1997

Ibnu al-Qayyim, Muhammad bin Abi Bakar Syamsuddin,  Badā`i’ al-Fawā`id, Beirut, Dār al-Kitāb al-‘Arabī, tth

Ibnu Taimiyah, Taqiyyuddin Abul Abbas, Majmū’ al-Fatāwa, Madinah, Majma’ al-Malik Fahd, 1995

al-“Īd, Ibnu Daqīq, iḥkām al-Aḥkām Sharḥ ‘Umdat al-Aḥkām, Cairo, Maktabah al-Sunnah, 1994

al-Muṭīrī, Abdurrahman Abdullah. “al-Siyāq al-Qur`anī wa Atharuhu fi al-Tafsīr”. Tesis – Jami’ah Ummul Qura, Makkah, 2008

al-Shāfi’ī, Abu Abdillah Muhammad bin Idris, al-Risālah, Cairo, Maktabah al-Ḥalabī, 1940

al-Shaukani, Muhammad bin Ali bin Abdillah, Fatḥ al-Qadīr, Damaskus: Dār Ibnu Kathir, 1414 H.

___________, Irshād al-Fuḥūl Ila Taḥqīq al-Haqq min ‘Ilm al-Uṣūl, Beirut, Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1999

al-Shātibī, Ibrahim bin Musa, al-Muwāfaqāt, Cairo, Dār Ibnu Affan, 1997

al-Suyuthi, Abdurrahman bin Abu Bakar Jalaluddin, al-Itqān fi ‘Ulūm al-Qur`an, Cairo, al-Hay`ah al-‘Ammāh li al-Kitāb, 1974

al-Thabari, Muhammad Ibnu Jarir Abu Ja’far, Jāmi’ al-Bayān fi Ta`wīl al-Qur`an, Cairo, Muassasat al-Risalah, 2000

al-Tirmidhi, Abu Isa, Sunan al-Tirmidhī, Cairo, Musṭafa al-Babī al-ḥalabī, 1975

Uthman bin Jani, Abu al-Fath, al-Khaṣā`iṣ, Cairo, al-Hay`ah al-Maṣriyah al-‘Āmmah li al-Kitāb, tth

al-Zarkashi, Abu Abdillah Badruddin Muhammad bin Abdillah, al-Baḥr al-Muḥiṭ fi Uṣūl al-Fiqh, Beirut, Dār al-Kutub, 1994

___________, al-Burhān fi ‘Ulūm al-Qur`an, Cairo, Dār Ihyā` al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1957


Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: