Home » Fikih » Pemberdayaan Ekonomi Berkelanjutan Melalui Zakat Dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Pemberdayaan Ekonomi Berkelanjutan Melalui Zakat Dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Makalah ini menjadi drfat Bahtsul Masail LBM NU PC Tuban pada April 2015

A. Latar Belakang Pemikiran

Pada tataran praktis kehidupan ekonomi umat Islam masih jauh dari cita-cita ideal al-Qur`an. Menurut statistik yang dirilis BPS Jawa Timur, penduduk Tuban yang hidup di bawah garis kemiskinan[1] pada tahun 2013 sebesar 196,100 jiwa atau 17,18 % dari total penduduk Tuban yang berjumlah 1.141.497 jiwa. Jumlah itu lebih kecil jika dibandigkan angka kemiskinan pada tahun 2010 yang mencapai 240,980 jiwa atau 21,5 % dari total penduduk 1.120.910 jiwa. Dengan demikian selama 3 tahun dari tahun 2010 hingga 2013, jumlah penduduk miskin turun 6,3 %. Di sisi lain berdasarkan data yang dirilis BPS Tuban pada tahun 2015, pendapatan regional perkapita pada tahun 2013 adalah 23.516.341 meningkat 42,23 % dari pendapatan perkapita tahun 2010 yang berjumlah 16.533.772.  Berdasarkan data di atas, peningkatan pendapatan perkapita belum berdampak signifikan terhadap pengentasan kemiskinan.

Dengan pendapatan perkapita 23.516.341 sebenarnya Tuban memiliki potensi dana pengentasan kemiskinan yang cukup besar. 99 % penduduk Tuban beragama Islam. Dengan asumsi 60 % saja dari total pendapatan perkapita disisihkan 2,5 % untuk dana pengentasan kemiskinan, maka akan diperoleh angaka: pendapatan perkapita x jumlah penduduk =
pendapatan regional x asumsi pendapatan wajib zakat x 2,5 = potensi zakat = 23.516.341 x 1.141.497 = 26.843.832.702.477 x 60 % x 2,5 % = 402.657.490.537,16. Jadi, potensi zakat di Tuban pada tahun 2013 mencapai 402,66 milyar atau setara dengan seperempat APBD yang berjumlah 1,6 triliyun.

Potensi tersebut belum termasuk kewajiban perusahaan untuk melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau yang lebih dikenal dengan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagaimana diatur dalam:

  1. UU No 40 tahun 2007 tentang Perseroran Terbatas
  2. PP No 47 tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Perseroan Terbatas
  3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
  4. Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor Per-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan sebagaimana terakhir diubah dengan Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara No. PER-08/MBU/2013 Tahun 2013 Tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER-05/MBU/2007 Tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan (“Permen BUMN 5/2007”)
  5. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi

Data yang diunduh dari csr.tubankab.go.id menyebutkan perusahaan CSR di tuban berjumlah 64, mulai dari perusahaan menengah hingga perusahaan besar BUMN dan multi nasional.

Kombinasi dana CSR dan zakat seperti dijelaskan di atas menjadi potensi besar bagi Tuban untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Tuban. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana seharusnya dana tersebut dikelola agar berdaya guna dan berhasil guna dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat?

B. Pandangan al-Qur`an tentang Kesejahteraan

Al-Qur`an yang merupakan sumber utama hukum Islam menjanjikan kehidupan yang baik bagi siapa saja yang beriman dan beramal saleh. Al-Naḥl: 97 menuturkan,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Kehidupan yang baik” (حَيَاةً طَيِّبَةً) pada ayat di atas mencakup kebaikan dalam segala aspek kehidupan dunia. Menafsirkan ayat tersebut di atas Ibnu Kathīr menjelaskan, bahwa kehidupa baik yang dimaksud pada ayat di atas adalah kehidupan di dunia dan kebaikan yang dimaksud mencakup segala aspek kehidupan[2]. Hal senada diungkapkan al-Shawkānī. Ia berkata, “… mayoritas ahli tafsir berpendapat bahwa kehidupan yang baik pada ayat ini adalah kehidupan yang baik di dunia, bukan di akhirat. Sebab, kehidupan akhirat telah disebutkan pada kalimat {وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كانُوا يَعْمَلُونَ}”[3].

Salah satu kehidupan sosial yang menjadi target reformasi al-Qur`an adalah kehidupan sosial ekonomi. Perhatian al-Qur`an terhadap kehidupan sosial ekonomi tampak jelas dengan ditetapkannya zakat sebagai pilar ketiga agama Islam. Bahkan dalam al-Qur`an perintah zakat nyaris selalu beriringan dengan perintah salat[4]. Ibnu Āshūr menilai bahwa penetapan zakat sebagai pilar ketiga mengindikasikan pentingnya harta dalam menyangga kemaslahatan umat[5].

Di samping kewajiban zakat, al-Qur`an juga mengupayakan kemaslahatan umat melalui denda-denda yang disalurkan kepada fakir miskin. Al-Baqarah: 184 menuturkan,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan puasa karena tidak kuat menjalankannya diharuskan membayar denda memberi makan orang miskin. Denda yang sama juga diberlakukan bagi orang-orang yang melanggar sumpah. Al-Mā`idah: 89 menuturkan,

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Orang yang melanggar sumpah diharuskan membayar denda berupa memberi makan 10 orang miskin, atau memberi pakaian orang miskin atau memerdekakan budak. Demikian pula denda bagi orang-orang yang melanggar larangan membunuh hewan buruan ketika sedang berihram, sebagaimana dituturkan al-Mā`idah: 95,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

Orang yang melanggar larangan tersebut dikenakan salah satu denda di antara tiga pilihan denda, yaitu menyembelih hewan ternak yang mirip dengan hewan buruan yang dibunuh, memberi makan orang miskin dan puasa.

Al-Qur`an juga mendorong infak yang disalurkan kepada fakir miskin. Al-Baqarah: 215 menuturkan,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Menurut Ibnu ‘Āshūr ayat ini merupakan perintah dan anjuran berinfak kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Anjuran ini dimaksudkan sebagai dorongan untuk turut menopang kebutuhan orang lain, diluar kewajiban zakat dan nafkah.

C. Tanggung Jawab Pemerintah terhadap Kesejahteraan Masyarakat

Pada dasarnya setiap orang bertangungg jawab terhadap kesejahteraan masing-masing. Allah memberikan kebebasan kepada tiap individu untuk memperoleh kepentingan masing-masing. Tetapi hal tersebut tidak menafikan tanggung jawab pemerintah atas kesejahteraan umatnya. Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam bersabda,

فَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا فَلْيَرِثْهُ عَصَبَتُهُ مَنْ كَانُوا، وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا، فَلْيَأْتِنِي فَأَنَا مَوْلاَهُ[6]

Siapapun orang mu’min yang mati meninggalkan harta, maka ahli warisnya yang akan mewarisinya. Dan siapapun yang mati meninggalkan hutang atau ahli waris yang lemah, maka aku yang mengurusnya.

Tanggung jawab pemerintah atas kesejahteraan rakyatnya dapat ditangkap dari sikap Umar Raḍiya ‘Allah Anhu sebagaimana diceritakan Ali Raḍiya ‘Allah Anhu berikut ini,

وعن علي رضي الله عنه قال: رأيت عمر بن الخطاب رضي الله عنه على قتب يعدو، فقلت: يا أمير المؤمنين أين تذهب؟ قال: بعير ندَّ من إبل الصدقة أطلبه فقلت: أذللت الخلفاء بعدك، فقال يا أبا الحسن لا تلمني فوالذي بعث محمداً بالنبوة لو أن عناقاً  أخذت بشاطئ الفرات لأخذ بها عمر يوم القيامة[7]

Ali berkata, aku melihat Umar di atas pelana. Lalu aku bertanya, “hendak kemana engkau”. Umar menjawab, “seekor onta sedekah lepas dari kawanannya dan aku sedang mengejarnya”. Akupun berkata, “kamu telah merendahkan khalifah-khalifah setelahmu”. Umar Menjawab, “Hai Abu al-Hasan, janganlah engkau mencelaku! Demi Dzat yang telah mengutus Muhammad sebagai nabi, Jika sampai ada onta yang mati di bantaran sungai Eufrat, maka Umar akan dituntut di hari kiamat.

Umar Raḍiya ‘Allah Anhu juga mengimplementasikannya dengan memberikan proteksi bagi usaha kecil. Al-Bukhārī meriwayatkan,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: اسْتَعْمَلَ مَوْلًى لَهُ يُدْعَى هُنَيًّا عَلَى الحِمَى، فَقَالَ: ” يَا هُنَيُّ اضْمُمْ جَنَاحَكَ عَنِ المُسْلِمِينَ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فَإِنَّ دَعْوَةَ المَظْلُومِ مُسْتَجَابَةٌ، وَأَدْخِلْ رَبَّ الصُّرَيْمَةِ، وَرَبَّ الغُنَيْمَةِ، وَإِيَّايَ وَنَعَمَ ابْنِ عَوْفٍ، وَنَعَمَ ابْنِ عَفَّانَ، فَإِنَّهُمَا إِنْ تَهْلِكْ مَاشِيَتُهُمَا يَرْجِعَا إِلَى نَخْلٍ وَزَرْعٍ، وَإِنَّ رَبَّ الصُّرَيْمَةِ، وَرَبَّ الغُنَيْمَةِ: إِنْ تَهْلِكْ مَاشِيَتُهُمَا، يَأْتِنِي بِبَنِيهِ “، فَيَقُولُ: يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ؟ أَفَتَارِكُهُمْ أَنَا لاَ أَبَا لَكَ، فَالْمَاءُ وَالكَلَأُ أَيْسَرُ عَلَيَّ مِنَ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَايْمُ اللَّهِ إِنَّهُمْ لَيَرَوْنَ أَنِّي قَدْ ظَلَمْتُهُمْ، إِنَّهَا لَبِلاَدُهُمْ فَقَاتَلُوا عَلَيْهَا فِي الجَاهِلِيَّةِ، وَأَسْلَمُوا عَلَيْهَا فِي الإِسْلاَمِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْلاَ المَالُ الَّذِي أَحْمِلُ عَلَيْهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ  مَا حَمَيْتُ عَلَيْهِمْ مِنْ بِلاَدِهِمْ شِبْرًا[8]

Suatu saat Umar bin Khattab Raḍiya ‘Allah Anhu  menugaskan seseorang yang bernama Hunai untuk menjaga tanah suaka (berupa padang gembala untuk memelihara hewan kendaraan pemerintah). Umar berpesan, “ Hunai, hindari penzaliman kepada kaum muslimin. Takutlah pada doa orang terzalimi, sebab doa orang terzalimi dikabulkan. Ijinkan peternak onta dan peternak kambing golongan lemah masuk (padang gembalaan ini), dan waspadai (jangan ijinkan masuk) hewan ternak Ibnu Auf (Abdurrahman bin Auf) dan Ibnu Affan (Utsman bin Affan). Sebab, jika ternak mereka berdua mati, mereka bisa beralih ke pohon kurma dan tanaman mereka. Sedangkan peternak onta dan kambing golongan lemah, jika hewan ternak mereka mati, mereka akan mendatangi saya dengan membawa anak-anaknya sembari berkata, ‘Hai Amirul Mu’minin… Hai Amirul Mu’minin… ‘. Apakah aku akan membiarkannya? Tidak. Air dan rumput (di padang gembalaan) lebih mudah bagi saya daripada emas dan perak (untuk menanggung biaya hidup mereka). Demi Allah mereka menganggapku telah menzaliminya. Padang gembalaan ini tanah mereka (tanah kosong di wilayah Madinah dan bukan milik perorangan). Mereka perjuangkan tanah ini pada masa jahiliyah dan ketika mereka masuk Islam tanah itu sudah menjadi miliknya. Demi Dzat yang nyawaku berada di dalam genggamannya, kalau saja bukan karena kekayaan (onta milik pemerintah) yang aku siapkan untuk kendaraan, maka aku tidak akan mensuaka sejengkalpun tanah mereka.”

Hadis di atas menggambarkan bahwa Umar selaku kepala negara memberikan fasilitas negara kepada peternak kecil. Hal ini dilakukan untuk melindungi peternak kecil dari kebangkrutan. Argumentasi yang diajukan Umar sangat masuk akal. Menurutnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menyubsidi peternak kecil jauh lebih murah jika dibandingkan dengan biaya yang ditimbulkan oleh kebangkrutan mereka. Jadi, pada dasarnya melindungi usaha kecil merupakan upaya untuk menciptakan stabilitas ekonomi secara keseluruhan, sekaligus bagian dari upaya menjamin kesejahteraan rakyat.

Hal senada disampaikan al-Shāfi’ī. Ketika membahas tata cara pembagian harta rampasan perang ia menjelaskan bahwa seyogyanya pemerintah menyensus jumlah seluruh penduduk, baik yang sudah layak berperang yaitu orang yang sudah pernah mimpi basah atau mencapai usia 15 tahun; keluarga yaitu orang yang belum pernah mimpi basah juga belum mencapai usia 15 tahun; dan para perempuan baik anak-anak maupun dewasa. Kemudian dihitung biaya yang  meraka butuhkan untuk hidup layak sesuai standar daerah masing-masing. Lalu masing-masing diberikan biaya hidupnya untuk setahun. Berikut kutipannya.

وَيَنْبَغِي لِلْإِمَامِ أَنْ يُحْصِيَ جَمِيعَ مَا فِي الْبُلْدَانِ مِنْ الْمُقَاتِلَةِ وَهُمْ مَنْ قَدْ احْتَلَمَ، أَوْ قَدْ اسْتَكْمَلَ خَمْسَ عَشْرَةَ مِنْ الرِّجَالِ وَيُحْصِي الذُّرِّيَّةَ وَهُمْ مَنْ دُونَ الْمُحْتَلِمِ وَدُونِ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً، وَالنِّسَاءَ صَغِيرَهُنَّ وَكَبِيرَهُنَّ وَيَعْرِفَ قَدْرَ نَفَقَاتِهِمْ وَمَا يَحْتَاجُونَ إلَيْهِ فِي مُؤْنَاتِهِمْ بِقَدْرِ مَعَاشِ مِثْلِهِمْ فِي بُلْدَانِهِمْ ثُمَّ يُعْطِي الْمُقَاتِلَةَ فِي كُلِّ عَامٍّ عَطَاءَهُمْ وَالذُّرِّيَّةُ والنساء مَا يَكْفِيهِمْ لِسَنَتِهِمْ مِنْ كِسْوَتِهِمْ وَنَفَقَتِهِمْ طَعَامًا، أَوْ قِيمَتِهِ دَرَاهِمَ، أَوْ دَنَانِيرَ وَيُعْطِي الْمَنْفُوسَ شَيْئًا ثُمَّ يُزَادُ كُلَّمَا كَبُرَ عَلَى قَدْرِ مُؤْنَتِهِ[9]

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab atas kesejahteraan rakyat.

D. Pengentasan Kemiskinan sebagai Prioritas

Dana-dana sosial seperti CSR apalagi dana Zakat, seyogyanya diprioritaskan untuk peningkatan kesejahteraan. Anas bin Malik Raḍiya ‘Allah Anhu menceritakan bahwa Abu Talhah Raḍiya ‘Allah Anhu bermaksud mendermakan kebun Bayruha’ yang dimilikinya sebagai sedekah kepada Allah. Lalu Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam memerintahkan agar kebun tersebut didermakan kepada kerabatnya. Berikut kutipannya.

حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ الأَنْصَارِ بِالْمَدِينَةِ مَالًا، وَكَانَ أَحَبَّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرُحَاءَ، وَكَانَتْ مُسْتَقْبِلَةَ المَسْجِدِ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ، فَلَمَّا نَزَلَتْ: {لَنْ تَنَالُوا البِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ} [سورة: آل عمران، آية رقم: 92] قَامَ أَبُو طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي كِتَابِهِ: {لَنْ تَنَالُوا البِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ} [سورة: آل عمران، آية رقم: 92] وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ، وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّهَا، وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ، فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ حَيْثُ شِئْتَ، فَقَالَ: «بَخٍ، ذَلِكَ مَالٌ رَائِحٌ، ذَلِكَ مَالٌ رَائِحٌ، قَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ فِيهَا، وَأَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الأَقْرَبِينَ» ، قَالَ: أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَسَمَهَا أَبُو طَلْحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ، تَابَعَهُ إِسْمَاعِيلُ، عَنْ مَالِكٍ، وَقَالَ رَوْحٌ، عَنْ مَالِكٍ: «رَابِحٌ»[10]

Dalam riwayat lain, Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam memerintahkan agar harta tersebut didermakan kepada kerabatnya yang miskin. Berikut kutipannya.

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، ثنا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ قَالَ: قَالَ أَنَسٌ: أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ {لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ} [آل عمران: 92] قَالَ: {مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا} [البقرة: 245] قَالَ أَبُو طَلْحَةَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ حَائِطِي الَّذِي فِي كَذَا وَكَذَا هُوَ لِلَّهِ، وَلَوِ اسْتَطَعْتُ أَنْ أُسِرَّهُ لَمْ أُعْلِنْهُ، فَقَالَ: «اجْعَلْهُ فِي فُقَرَاءِ أَهْلِكَ، أَدْنَى أَهْلِ بَيْتِكَ»[11]

Di samping itu pola bantuan kepada fakir miskin seharusnya tidak dalam wujud bantuan karitatif, di mana uang dibagi-bagikan kepada jumlah penerima yang sangat banyak, hingga masing-masing orang hanya mendapatkan bagian yang sedikit. Pola semacam ini tentu sulit diharapkan dapat mengentaskan kemiskinan. Seharusnya dana tersebut diberikan kepada orang-orang miskin sebagai modal agar dapat meningkatkan taraf ekonomi secara berkelanjutan. Umar berkata, “Jika kalian memberi, maka kayakanlah”[12]. Dengan perkataan lain, pemberian harus diupayakan berdampak pada peningkatan kesejahteraan orang yang diberi.

Pemberian yang mengayakan menjadi salah satu prinsip pembagian zakat dalam literatur fikih. Nawawi misalnya, mengklasifikasikan orang yang menerima zakat menjadi dua, yaitu: orang yang memiliki keterampilan bekerja dan orang yang tidak memiliki keterampilan kerja. Zakat kepada fakir miskin yang memiliki keterampilan kerja diberikan dalam bentuk modal atau alat. Sedangkan zakat kepada fakir miskin yang tidak terampil diberikan dalam bentuk biaya hidup sepanjang hayat. Berikut kutipannya.

(الْمَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ) فِي قَدْرِ الْمَصْرُوفِ إلَى الْفَقِيرِ وَالْمِسْكِينِ قَالَ أَصْحَابُنَا الْعِرَاقِيُّونَ وَكَثِيرُونَ مِنْ الْخُرَاسَانِيِّينَ يُعْطِيَانِ مَا يَخْرُجُهُمَا مِنْ الْحَاجَةِ إلَى الْغِنَى وَهُوَ مَا تَحْصُلُ بِهِ الكفاية علي الدوام وهذا هو نص للشافعي رَحِمَهُ اللَّهُ

وَاسْتَدَلَّ لَهُ الْأَصْحَابُ بِحَدِيثِ قَبِيصَةَ بْنِ الْمُخَارِقِ الصَّحَابِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم قال ” لَا تَحِلُّ الْمَسْأَلَةُ إلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ رَجُلٌ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ وَرَجُلٌ اصابته فاقة حتى يقوم ثلاثة من ذوى الحجى مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ فَمَا سِوَاهُنَّ من الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتٌ يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ وَالْقِوَامُ وَالسِّدَادُ بِكَسْرِ أَوَّلِهِمَا وَهُمَا بِمَعْنًى قَالَ أَصْحَابُنَا فَأَجَازَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْأَلَةَ حَتَّى يُصِيبَ مَا يَسُدُّ حَاجَتَهُ فَدَلَّ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ قَالُوا وَذِكْرُ الثَّلَاثَةِ فِي الشَّهَادَةِ للاستظهار لا للاشتراط

قال اصحابنا فان كان عَادَتْهُ الِاحْتِرَافَ أُعْطِيَ مَا يَشْتَرِي بِهِ حِرْفَتَهُ أَوْ آلَاتِ حِرْفَتِهِ قَلَّتْ قِيمَةُ ذَلِكَ أَمْ كَثُرَتْ وَيَكُونُ قَدْرُهُ بِحَيْثُ يَحْصُلُ لَهُ مِنْ ربحه ما يفى بكفايته غالبا تَقْرِيبًا وَيَخْتَلِفُ ذَلِكَ بِاخْتِلَافِ الْحِرَفِ وَالْبِلَادِ وَالْأَزْمَانِ وَالْأَشْخَاصِ وَقَرَّبَ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا ذَلِكَ فَقَالُوا مَنْ يَبِيعُ الْبَقْلَ يُعْطَى خَمْسَةَ دَرَاهِمَ أَوْ عَشْرَةَ وَمَنْ حِرْفَتُهُ بَيْعُ الْجَوْهَرِ يُعْطَى عَشْرَةَ آلَافِ دِرْهَمٍ مَثَلًا إذَا لَمْ يَتَأَتَّ لَهُ الْكِفَايَةُ بِأَقَلَّ مِنْهَا وَمَنْ كَانَ تَاجِرًا أَوْ خَبَّازًا أَوْ عَطَّارًا أَوْ صَرَّافًا أُعْطِيَ بِنِسْبَةِ ذَلِكَ وَمَنْ كَانَ خَيَّاطًا أَوْ نَجَّارًا أَوْ قَصَّارًا أَوْ قَصَّابًا أَوْ غَيْرَهُمْ مِنْ أَهْلِ الصَّنَائِعِ أُعْطِيَ مَا يَشْتَرِي بِهِ الْآلَاتِ الَّتِي تَصْلُحُ لِمِثْلِهِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الضِّيَاعِ يُعْطَى مَا يَشْتَرِي بِهِ ضَيْعَةً أَوْ حِصَّةً فِي ضَيْعَةٍ تَكْفِيهِ غَلَّتُهَا عَلَى الدَّوَامِ

قَالَ أَصْحَابُنَا فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُحْتَرِفًا وَلَا يُحْسِنُ صَنْعَةً أَصْلًا وَلَا تِجَارَةً وَلَا شَيْئًا مِنْ أَنْوَاعِ الْمَكَاسِبِ أُعْطِيَ كِفَايَةَ الْعُمْرِ الْغَالِبِ لِأَمْثَالِهِ فِي بِلَادِهِ[13] (المجموع، 6:193-194)

E. Peran Pemerintah dalam Menghimpun Dana Zakat

Prinsip “pemberian yang mengayakan” mengasumsikan adanya dana yang besar untuk memberikan akses modal bagi sebanyak mungkin orang. Hal itu sulit tercapai jika zakat disalurkan secara perorangan. Sebab, jumlah dana zakat yang dikeluarkan satu orang muzakki belum tentu cukup untuk memberikan akses modal bagi satu orang fakir miskin. Oleh karena itu diperlukan penghimpunan dana zakat dalam skala masif dan dikelola secara kelembagaan. Pengelolaan zakat semacam ini diisyaratkan dalam al-Tawbah: 60,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (60)

Keberadaan pemungut zakat (‘āmil) seabgai salah satu penerima zakat mengindikasikan bahwa, zakat memang dikelola secara kelembagaan. Hal ini diperkuat dengan perintah untuk mengambil zakat dalam al-Tawbah: 103,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tentang ayat tersebut Ibnu Atiyyah menjelaskan bahwa yang dimaksud صَدَقَةً adalah zakat. Ia juga menjelaskan, ayat ini menunjukkan bahwa zakat dipungut dan dikelola oleh pemerintah[14].

Nabi Ṣalla Allah Alayhi wa sallam mengambil peran dalam memungut dan mengelola zakat, termasuk juga mengaudit keuangan zakat. Abu Humaid al-Sā’idī menceritakan,

اسْتَعْمَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا عَلَى صَدَقَاتِ بَنِي سُلَيْمٍ يُدْعَى ابْنَ الْلَّتَبِيَّةِ فَلَمَّا جَاءَ حَاسَبَهُ قَالَ هَذَا مَالُكُمْ وَهَذَا هَدِيَّةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَلَّا جَلَسْتَ فِي بَيْتِ أَبِيكَ وَأُمِّكَ حَتَّى تَأْتِيَكَ هَدِيَّتُكَ إِنْ كُنْتَ صَادِقًا …[15]

Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam menugaskan seseorang bernama Ibnu Lutbiyah untuk memungut zakat Bani Sulaim lalu. Sekembalinya Ibu Lutbuyah Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam mengauditnya. Ibnu Lutbiyah berkata, “Ini hartamu (zakat yang diambil dari Ibnu Sulaim) dan ini hadiah (untukku). Rasulullah menjawab, “ kenapa tidak duduk saja kamu di rumah bapakmu dan ibumu hingga datang kepadamu hadiahmu, jika memang kamu benar …

Atas dasar itulah Nawawi mewajibkan pemerintah mengangkat Amil untuk memungut zakat dari para wajib zakat. Ia katakan,

(ص) ويجب علي الامام أن يبعث السعاة لاخذ الصدقة لان النبي صلي الله عليه وسلم والخلفاء من بعده (كانوا يبعثون السعاة)…

(ش) … قَالَ أَصْحَابُنَا يَجِبُ عَلَى الْإِمَامِ بَعْثُ السُّعَاةِ لِأَخْذِ الصَّدَقَاتِ لِمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ وَالسُّعَاةُ جَمْعُ سَاعٍ وهو العامل[16]

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa peran pemerintah dalam zakat sama dengan perannya dalam pajak, yaitu memungut mengelola dan menyalurkannya kepada yang berhak.

F. Kombinasi Sumber Daya Finansial dan Kesiapan Masyarakat

Sejatinya pemerintah telah banyak mengucurkan program peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan, seperti Kredit Investasi Kecil (KIK), Kredit Candak Kulak (KCK), Supra Insus, Kredit Usaha Kecil (KIK), Kredit Candak Kulak (KCK), Kredit Usaha Tani (KUT), Pembangunan Kawasan Terpadu (PKT), Inpres Desa Tertinggal (IDT), Jaring Pengaman Sosial (JPSP). Dari perusahaan juga ada CSR. Tetapi semua program tersebut belum menunjukkan hasil signifikan. Penyebabnya adalah kesiapan masyarakat dalam menerima dan megelola dana.

Klasifikasi zakat seperti dilakukan Nawawi di atas mengindikasikan bahwa bantuan modal untuk pengentasan kemiskinan hanya diberikan kepada orang-orang yang memang terampil bekerja. Jika bantuan modal itu diberikan kepada orang yang tidak terampil, maka tidak akan memiliki efek dalam jangka panjang. Untuk itu di samping penghimpunan dana, persiapan masyarakat juga menjadi syarat mutlak bagi pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. Cerita Anas bin Malik Raḍiya ‘Allah Anhu berikut menggambarkan bagaimana Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam melakukan pemberdayaan yang berkelanjutan.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنِ الْأَخْضَرِ بْنِ عَجْلَانَ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ الْحَنَفِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُهُ، فَقَالَ: «أَمَا فِي بَيْتِكَ شَيْءٌ؟» قَالَ: بَلَى، حِلْسٌ نَلْبَسُ بَعْضَهُ وَنَبْسُطُ بَعْضَهُ، وَقَعْبٌ نَشْرَبُ فِيهِ مِنَ الْمَاءِ، قَالَ: «ائْتِنِي بِهِمَا» ، قَالَ: فَأَتَاهُ بِهِمَا، فَأَخَذَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ، وَقَالَ: «مَنْ يَشْتَرِي هَذَيْنِ؟» قَالَ رَجُلٌ: أَنَا، آخُذُهُمَا بِدِرْهَمٍ، قَالَ: «مَنْ يَزِيدُ عَلَى دِرْهَمٍ مَرَّتَيْنِ، أَوْ ثَلَاثًا» ، قَالَ رَجُلٌ: أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمَيْنِ فَأَعْطَاهُمَا إِيَّاهُ، وَأَخَذَ الدِّرْهَمَيْنِ وَأَعْطَاهُمَا الْأَنْصَارِيَّ، وَقَالَ: «اشْتَرِ بِأَحَدِهِمَا طَعَامًا فَانْبِذْهُ إِلَى أَهْلِكَ، وَاشْتَرِ بِالْآخَرِ قَدُومًا فَأْتِنِي بِهِ،» ، فَأَتَاهُ بِهِ، فَشَدَّ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُودًا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ لَهُ: «اذْهَبْ فَاحْتَطِبْ وَبِعْ، وَلَا أَرَيَنَّكَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا» ، فَذَهَبَ الرَّجُلُ يَحْتَطِبُ وَيَبِيعُ، فَجَاءَ وَقَدْ أَصَابَ عَشْرَةَ دَرَاهِمَ، فَاشْتَرَى بِبَعْضِهَا ثَوْبًا، وَبِبَعْضِهَا طَعَامًا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” هَذَا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ [ص:121] تَجِيءَ الْمَسْأَلَةُ نُكْتَةً فِي وَجْهِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَصْلُحُ إِلَّا لِثَلَاثَةٍ: لِذِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ، أَوْ لِذِي غُرْمٍ مُفْظِعٍ، أَوْ لِذِي دَمٍ مُوجِعٍ “[17]

Seseorang dari kaum Ansor datang kepada Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam untuk meminta-minta. Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam bertanya, “Adakah barang di rumahmu?”. “Ada. Kain (حلسkain yang biasa dijadikan alas pelana onta) yang sebagian aku pakai dan sebagian aku jadikan alas tidur serta gelas yang aku jadikan wadah minum.” , jawab orang itu. “bawa kemari kedua barang itu”, perintah Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam kemudian. Orang itu pun mengambilnya. Lalu Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam memegang kedua barang tersebut dan bertanya, “Siapa yang bersedia membeli kedua barang ini?”. “Saya, Rasulullah. Saya mengambilnya dengan harga satu dirham”, sahut seseorang. Rasulullah bertanya lagi, “Siapa yang bersedia menaikkan harga di atas satu dirham?”. Pertanyaann ini diulanginya dua atau tiga kali. Lalu orang yang berbeda menyahutinya, “Saya mengambilnya dengan dua dirham”. Rasululah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam pun menyerahkan kedua barang itu kepadanya dan mengambil uang dua dirham lalu menyerahkannya kepada orang Ansor tersebut. Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam berkata, “Belilah makanan dengan satu dirham dan berikanlah kepada keluargamu. Satu dirham lagi belikanlah kapak dan datanglah kemari”. Orang Ansor itu datang lagi dengan membawa kapak. Dengan tangannya Rasulullah mengikatkan pegangan pada kapak tersebut seraya berkata, “Pergi dan carilah kayu bakar lalu juallah!. Jangan sampai aku melihatmu lagi sebelum lima belas hari”. Orang Ansor itupun pergi mencari kayu dan menjualnya. Kemudian ia datang lagi dan telah membawa 10 dirham. Sebagian dibelikan pakaian dan sebagian lagi dibelikan makanan. Lalu Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam bersabda, “ini lebih baik bagi kamu dari pada meminta-minta yang akan mendatangkan noda hitam di wajahmu di hari kiamat nanti. Sesungguhnya meminta-minta tidak diperbolehkan kecuali bagi orang yang sangat miskin atau orang terlilit hutang yang besar atau orang yang menanggung darah (yang dimaksud adalah denda pembunuhan) yang memberatkan”.

Pada hadis di atas Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam tidak memberi kepada orang yang meminta, malah menyuruhnya bekerja. Hal ini dapat diartikan sebagai upaya Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam menumbuhkan prakarsa pada diri orang tersebut untuk mengatasi persoalannya. Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam juga tidak memberikan modal secara cuma-cuma. Hal ini dapat diartikan sebagai upaya Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam menumbuhkan tanggung jawab atas usaha yang dikelolanya. Rasulullah Ṣalla Allah Alayhi wa sallam tidak hanya menumbuhkan tanggung dan jawab dan prakarsa, melainkan juga membela prakarsa tersebut dengan memberikan akses modal. Hal itu dilakukan dengan melelang barang orang yang meminta, dan hasilnya digunakan sebagai modal kerja.

Dari penjelasan di atas tampak bahwa di samping akses dana, persiapan sosial menjadi syarat bagi terwujudnya pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

G. Kesimpulan dan Rekomendasi

1. Kesimpulan

Pemerintah Kabupaten Tuban memiliki potensi dana zakat dan CSR yang besar. Dana tersebut bisa menjadi modal bagi pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. Untuk dapat mengoptimalkan potensi tersebut maka diperlukan hal-hal berikut:

  1. Keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan dana zakat dan CSR adalah hal niscaya sebagai bagian dari tanggung jawab pemerintah terhadap kesejahteraan masyarakatnya
  2. Dana zakat dan CSR harus diprioritaskan bagi pengentasan kemiskinan
  3. Dana zakat dan CSR yang disalurkan untuk pengentasan kemiskinan tidak dibagi-bagikan dengan pola karitatif dan philantropis. Penyaluran dana pengentasan kemiskinan harus berpegang pada prinsip “pemberian yang mengayakan”, yaitu pemberian yang berefek jangka panjang dan berkelanjutan bagi kesejahteraan orang yang diberi.
  4. Dana zakat yang disalurkan secara perorangan sulit meujudkan prinsip “pemberian yang mengayakan”. Untuk dapat mengimplementasikan “pemberian yang mengayakan” diperlukan penghimpunan dana zakat secara masif dan dilakukan oleh pemerintah.
  5. Di samping akses modal, pemberdayaan ekonomi harus ditunjang dengan persiapan sosial. Masyarakat harus ditumbukan prakarsa dan tanggung jawabnya untuk mengatasi persoalan ekonominya sendiri serta dibekali dengan keterampilan yang diperlukan.

2. Rekomendasi

Berdasarkan kesimpulan di atas Lembaga Bahsul Masail PCNU Tuban merekomendasikan kepada pemerintah Kabupaten Tuban hal-hal berikut:

  1. Menerbitkan perubahan atas Perda No 3 Tahun 2015 tentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TSP) atau peraturan baru yang memuat pasal yang mengatur hal-hal berikut:
    1. Sekurang-kurangnya seperempat dari total dana TSP dialokasikan untuk pemberdayaan ekonomi berkelanjutan
    2. Larangan mengalokasikan dana TSP untuk kepentingan kosmetik dan public relation bagi kepentingan perusahaan
  2. Mengalokasikan anggaran untuk program Pendampingan Persiapan Sosial yang bertujuan menumbuhkan prakarsa dan tanggung jawab serta pembekalan keterampilan yang diperlukan masyarakat.
  3. Berperan lebih aktif melalui BAZNAZDA dalam memungut dan mengelola dana zakat untuk memaksimalkan potensi zakat di Kabupaten Tuban.

LBM NU juga merekemondasikan kepada PCNU Tuban untuk mensosialisasikan dan mendorong warga NU agar membayarkan zakatnya melalui BAZNAZDA

Tuban, 7 April 2015

[1] Batas garis kemiskinan yang menjadi patokan BPS Tuban tahun 2013 adalah Rp 256.900 per bulan perkapita.

[2]Abu al-Fida` Ismail Ibnu Kathīr, Tafsīr al-Quran al-‘Aẓīm, (Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyyah, 1419 H.), 4:516

[3]Muhammad bin Ali al-Shawkānī, Fath al-Qadīr, (Damaskud: Dār Ibn Kathīr, 1414 H.), 3:231.

[4]Amr bin Harb Abu Uthman al-Jāḥiẓ, al-Bayān wa al-Tabyīn, (Beirut: Dār wa Maktabar al-Hilāl, 1423 H.), 1:42.

[5]Muhammad Tahir Ibnu Āshūr, Maqāsid al-Sharī’ah al-Islāmiyyah, (Yordania: Dār al-Nafāis, 2001),450

[6] Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al- Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, (Beirut: Dār Tawq al-Najāh, 1422 H.), 3:118

[7] Yusuf bin Hasan bin Abdul Hadi al-Dimashqī, Maḥḍu al-Ṣawāb fi Faḍā`il Umar bin al-Khaṭṭāb, (Madinah: al-Jamiah al-Islamiyah, 2000), 621.

[8]Muhammad bin Ismā’il al-Bukhāry, Ṣahīh al- Bukhāry, 4:71.

[9] Muhammad bin Idris al-Shāfi’ī, al-Umm, (Manshurah: Dār al-Wafa`, 2001), 5:344

[10] Muhammad bin Ismā’il al-Bukhāry, Ṣahīh al- Bukhāry, 3:102.

[11] Abu Bakar Ibnu Khuzaimah, Ṣaḥīḥ Ibnu Khuzaimah, (Beirut: al-Maktab al-Islāmī, tth), 4:105.

[12] Abu Ubaid al-Qāsim bin Salam, Kitāb al-Amwāl, (Beirut: Dār al-Fikr, tth), 676

[13] Abu Zakaria Muhyiddin Yahya bin Sharof al-Nawawi, al-Majmū’ Sharḥ al-Muhadhdhab, (Beirut: Dār al-Fikr), 6: 193-194.

[14] Abu Muhammad Abdul Haq bin Atiyyah, al-Wajīz fi Tafsīr al-Kitāb al-‘Azīz, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1422 H.),  3:78.

[15] Muhammad bin Ismā’il al-Bukhāry, Ṣahīh al- Bukhāry, 9:28.

[16] Abu Zakaria Muhyiddin Yahya bin Sharof al-Nawawi, al-Majmū’, 6: 167-168.

[17]Sulaiman bin al-`Ash’ath Abu Daud, Sunan Abi Dāwud, (Cairo: Dār Iḥyā` al-Kutub al-‘Arabiyyah, 1383) 2:120. Dalam catatan kaki Albani menilai hadis ini lemah. Al-Tirmidhī juga meriwayatkan sebagian hadis tersebut, yaitu pada bagian lelang, dengan isnad yang sama dan mengatakan hadis ini bagus. Lihat al-Tirmidhī, sunan al-Tirmidhī, (Cairo: Musthafa al-bābī al-Ḥalabī, 1975), 3:514.

Advertisements

Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Statistik

  • 70,927 Kunjungan
%d bloggers like this: