Home » Sejarah » Propaganda Paus Urbanus II, Sejarah Perang Salib Dalam Perspektif Penulis Barat

Propaganda Paus Urbanus II, Sejarah Perang Salib Dalam Perspektif Penulis Barat

A. Pendahuluan

Sebuah kartu pos Perancis pada perang dunia I bergambar karikatur kaisar Jerman, Wilhem II, sedang menginggit bola dunia. Kartu pos ini merupakan propaganda yang menggiring opini publik bahwa Jerman sedang menebar ancaman militer ke seluruh dunia,  termasuk Perancis. Media propaganda di Inggris dan Amerika Serikat pada perang dunia I juga berhasil menggiring opini publik bahwa Jerman adalah bangsa barbar yang kejam. Pada perang dunia II propaganda Hitler berhasil memobilisasi dukungan rakyat untuk berperang melawan sekutu yang merugikan kepentingan Jerman. Hitler juga berhasil meyakinkan rakyatnya untuk berkorban demi kajayaan bangsa Aria.

Propaganda memainkan peranan penting dalam perang. Propaganda bisa menjadi alat untuk memobilisasi dukungan atau menanamkan kebencian terhadap musuh. Propaganda dimaksudkan untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran khalayak, agar berperilaku dan berpikiran sesuai dengan yang diharapkan pelaku propaganda

Perang Salib sebagai perang terbesar dalam sejarah Eropa abad pertengahan, tentu menggunakan teknik propaganda untuk memobilisasi dukungan dan menggerakkan massa. Dari sudut pandang sejarawan barat, Perang Salib akan dicatat sebagai sebuah gerakan terstruktur dan sistematis dimulai persiapan hingga penyerbuan. Berbeda dengan penulis sejarah barat, para penulis sejarah Muslim awal, seperti Ibn al-Qalānisī dan Ibn al-`Āthīr hanya memahami Perang Salib melalui fenomena pertempuran yang terjadi di wilayah kekuasaan Kerajaan Islam. Karena itu, Perang Salib lebih tepat jika dilihat sebagi sejarah Barat yang mengambil panggung sejarahnya di wilayah timur tengah.

Makalah ini mencoba menyajikan Perang Salib dengan memposisikan propaganda sebagai pusat pusaran sejarah. Faktor agama, sosial, politik dan ekonomi yang melatarbelakangi terjadinya Perang Salib akan dikemas dalam konteks kerja propaganda dalam mempengaruhi opini publik. Demikian pula jalanya peperangan dan hasil yang dicapai akan dilihat dari sudut pandang kesesuainya dengan propaganda.

Sebagai sejarah Barat, penyajian Perang Salib akan lebih fair jika merujuk pada sumber-sumber Barat. Oleh karena itu semaksimal mungkin makalah ini hanya akan merujuk pada karya-karya penulis Barat. Kalaupun diperlukan merujuk kepada sumber non Barat, maka perujukan itu hanya bersifat sekunder. Dengan demikian fakta sejarah Perang Salib sebagai sejarah Barat benar-benar dapat disajikan dalam perspektif penulis Barat.

B. Konsolidasi Kekuatan Eropa di Bawah Kendali Gereja Romawi

Di masa awal kepausan, Gereja Romawi tunduk dibawah kekuasaan kekaisaran Bizantium. Bahkan tidak jarang Gereja Romawi menerima perlakuan yang merendahkan wibawa. Penolakan Gereja terhadap titah kekaisaran bisa berujung pada sanksi yang berat. Pada tahun 638 kaisar Heraclius mengeluarkan dekrit tentang penyatuan mazhab Kristen yang cenderung berpihak kepada mazhab Gereja Yunani. Gereja Romawi berpendapat bahwa Yesus memiliki dua kehendak dan dua entitas, sedang mazhab Timur berkeyakinan bahwa Yesus memiliki kehendak dan entitas yang tunggal. Keputusan ini diterima dengan terpaksa oleh Paus Honorius I. Ia menjustifikasi sikapnya dengan mengatakan bahwa persoalan kehendak tunggal atau kehendak ganda adalah “… masalah yang aku serahkan kepada ahli bahasa. Sebab masalah ini tidak terlalu berbahaya”. Sikap Honorius memang menyelamatkan Gereja Romawi dari ancaman sanksi kekaisaran, tetapi di sisi lain sikap itu mendatangkan gelombang kritik dari kalangan tokoh agama Gereja Romawi[1].

Sepuluh tahun berselang peristiwa ini terulang ketika Konstantin berkuasa. Pada tahun 648 kaisar Konstantin mengeluarkan keputusan yang cenderung memihak kepada mazhab Gereja Yunani. Tetapi kali ini kepausan yang saat itu dijabat oleh Martinus I menolak. Akibat penolakan tersebut Martinus diasingkan hingga meninggal pada tahun 655 [2].

Titik balik hubungan Gereja Romawi dengan kekisaran Bizantium terjadi ketika Stephanus II naik tahta kepausan pada tahun 752. Ancaman kaum heretic Lombard terhadap kekuasaan Gereja Romawi mendorong Stephanus untuk meminta bantuan militer dari kekaisaran Bizantium. Tetapi Bizantium tidak merespon permintaan Gereja Romawi. Akhirnya Stephanus membangun aliansi baru dengan Perancis yang dipimpim oleh raja Pippin. Dengan bantuan Pippin, Gereja Romawi berhasil mengalahkan heretic Lombard. Pippin bahkan menghadiahkan seluruh wilayah Italia tengah kepada Gereja Romawi. Sebagai imbalan, Stephanus memberikan legitimasi keagamaan kepada kerajaan Frank dan berjanji memberikan hukuman pengucilan kepada rival politik keluarga Pippin.

Aliansi ini menguntungkan kedua belah pihak. Di satu pihak, Gereja Romawi mendapatkan dukungan politik dan militer. Di pihak lain kerejaan Frank mendapatkan legitimasi keagamaan yang memang menjadi salah satu faktor penentu kekuasaan di Eropa pada abad pertengahan. Puncak aliansi terjadi ketika Paus Leo III memasangkan mahkota raja ke kepala Charlemagne, putra Pippin, sebagai simbol restu Gereja Romawi kepada otoritas politik kerajaan. Sejak saat itu tidak seorangpun diakui sebagai raja kecuali telah mendapatkan restu dari Gereja Romawi. Aliansi ini sekaligus mencerminkan penolakan Gereja Romawi terhadap kekuasan Bizantium.

Kekuasaan Gereja Romawi semakin besar sepeninggal Charlemagne tahun 814. Raja-raja di Eropa Barat tunduk pada titah kepausan. Penolakan terhadap keputusan kepausan dapat berakibat sanksi pemakzulan dan pengucilan. Hegemoni otoritas keagamaan Gereja Romawi atas otoritas politik raja-raja Eropa barat tercermin dalam konflik Paus Gregorius VII dengan raja Henry IV yang dikenal dengan nama “peristiwa Kanossa”. Pada tahun 1075 Gregorius mengeluarkan keputusan yang melarang keterlibatan raja dalam pengangkatan seorang uskup. Gregorius berpendapat bahwa otoriras agama harus berada di atas otoritas politik; “kota manusia” tunduk kepda “kota Tuhan”. Kekuasaan politik bersumber dari kekuasaan agama, seperti yang telah berlangsung selama ini ketika pengangkatan raja harus mendapatkan restu dari kepausan[3]. Ketika Gregorius mengirim utusan agar Henry mentaati keputusan kepausan, Henry meresponya dengan surat yang bernada tantangan. Dalam salah satu baris surat tersebut tertulis, “… dari Henry, raja dengan perintah Tuhan, bukan dengan merampas, kepada Hildebrand[4], pendeta palsu dan bukan Paus”. Kalimat tersebut merupakan klaim atas legitimasi kekuasaan Henry sekaligus sindiran bahwa Gregorius mencapai jabatan Paus dengan cara menyuap, seperti isu yang berkembang di sebagian kalangan uskup. Pembangkangan Henry berujung pada pengucilan, pemakzulan dan pelaknatan yang berlaku efektif atas dasar titah kepausan.

Perseteruan Gregorius VII versus Henry IV berakhir dengan kekalahan tragis Henry. Raja Henry IV harus “menyembah-nyembah” Gregorius VII untuk mendapatkan ampunannya atas pembangkangan Henry selama ini. Selama tiga hari Henry berdiri di depan kastil Kanossa, tempat Gregorius tinggal saat itu, dengan bertelanjang kaki dan tubuh hanya berbalut pakaian compang-camping demi menunggu perkenan sang Paus Gregorius untuk keluar dan memberikan pengampunan. Setelah mendapat pengampunan, kekuasaan Henry dikembalikan dan ia diterima kembali sebagai masyarakat gereja[5].

Kekalahan Henry menandai hegemoni Gereja Romawi atas kekuasaan politik di Eropa Barat. Kondisi ini berlanjut hingga Paus Urbanus II, pencetus Perang Salib, naik tahta kepausan. Dengan demikian menjelang terjadinya perang Salib, Gereja Romawi sedang berada pada tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Otoritas sekuler yang sebelumnya mensubordinasi kekuasaan Gereja Romawi, kini justru berbalik berada di bawah hegemoninya. Gereja Romawi kini bukan sekedar penguasa agama tetapi juga penguasa sekuler yang dapat mengendalikan seluruh kekuatan politik dan militernya untuk kepentingan Gereja. Pencapaian ini sesuai dengan cita-cita besar Gregorius VII yang menginginkan Gereja sebagai kekuasaan tertinggi di atas segala kekuasaan lain di dunia.

Kekuasaan Gereja Romawi semakin lengkap ketika kekaisaran Konstantinopel sebagai pelindung Gereja Yunani mulai melemah dan menunjukkan niat baik untuk bekerja sama dan bersatu dengan Gereja Romawi dalam menghadapai ancaman pasukan Islam. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa Leo III memasangkan mahkota ke kepala Charlemagne sebagai simbol penolakan Gereja Romawi terhadap kekuasaan Bizantium. Penolakan ini merupakan puncak perpecahan Gereja Romawi dengan Gereja Yunani yang berada di bawah naungan politik dan militer kekaisaran Bizantium.

Sepanjang abad 9 dan 10, Gereja Yunani mengalami kemajuan peradaban jauh mengungguli koleganya di barat. Di mata orang-orang Kristen Yunani, kolega mereka dari Jerman dan Anglosaxon tidak lebh dari orang-orang kasar yang tidak berpendidikan. Kristen Jerman dan Anglosaxon adalah orang-orang tidak beriman yang hanya mengandalkan kekerasan dan dipimpin oleh sekelompok orang bejat dari tokoh-tokoh agama[6]. Tetapi gelombang serangan bertubi-tubi yang dilancarkan pihak luar mengakibatkan kekuatan Bizantium semakin melemah. Ancaman paling serius datang dari Turki Seljuk Islam yang berhasil menghadiahkan kekalahan telak kepada kaisar Romanus IV dalam pertempuran Manzikart tahun 1071. Antiokia, Nicea dan hampir seluruh Asia Tengah yang semula berada di bawah kekuasaan Bizantium jatuh ke tangan Turki Seljuk.

Kekalahan itu memaksa Bizantium berkompromi dan bersahabat dengan Gereja Romawi yang selama ini menjadi musuhnya. Tahun 1073 kaisar Bizantium, Michael VII, meminta bantuan kepada Gregorius VII. Kepausan Gereja Romawi yang sedang mengkonsolidir seluruh kekuatan Kristen menangkap permintaan Michael sebagai kesempatan untuk menyatukan kekuatan Kristen barat dan Kristen Timur. Gregorius berjanji melakukan serangan besar-besaran untuk merebut kembali Asia Kecil dari tangan pasukan Islam dan mengembalikannya kepada Bizantium. Sebagai imbalannya Gregorius menuntut kesediaan Bizantium untuk menyatukan Gereja Romawi dan Gereja Yunani[7].

Rencana Gregorius tidak terlaksana. Tetapi upaya Bizantium membendung penetrasi Turki Seljuk ke Eropa melalui Konstantinopel tidak berhenti. Pada tahun 1095 Alexius Comnenus yang menjabat kekaisaran Bizantium saat itu kembali meminta bantuan Paus Urbanus II untuk menghadapi serbuan Turki Seljuk[8].

Dengan demikian menjelang terjadinya perang Salib nyaris seluruh kekuatan Eropa telah terkonsolidasi di bawah kendali Gereja Romawi.

C. Propaganda Urbanus II

Sejatinya gagasan penyerbuan ke wilayah Islam sudah mengemuka sebelum Urabnus II. Sylvester II pernah menyeru dunia Kristen untuk menyelamatkan tanah suci Palestina dari tangan umat Islam. Dan Gregorius VII pernah berteriak lantang, “sesungguhnya melibatkan kehidupanku dalam bahaya demi membebaskan tempat-tempat suci lebih aku utamakan dari pada menguasai seluruh dunia[9]. Tetapi gagasan penyerbuan tersebut menemukan momentumnya pada saat Urbanus II naik tahta kepausan.

Setelah seluruh kekuatan Eropa terkonsolidasi, Urbanus II mulai melakukan propaganda untuk menggerakkan kekuatan Eropa merebut kembali wilayah yang pernah dikuasai Kristen Romawi. Pada bulan Maret 1095 Urbanus yang memimpin pertemuan Piacenza menyodorkan proposal penyelamatan Bizantium dari penetrasi kekuatan Islam. Tetapi Urabnus menyarankan agar pelaksanaan proyek ini ditunda hingga dilakukan pertemuan yang lebih besar untuk membahas penyerbuan militer ke dunia Islam[10].

Keputusan Urbanus merupakan langkah taktis dan starategis untuk memastikan kemenangan pihak Kristen dalam perang Salib. Sebab, tanpa persiapan matang yang dapat memastikan kemenangan, Perang Salib hanya akan jadi bumerang bagi Gereja Romawi dan meruntuhkan kewibaannya. Jika Perang Salib gagal, maka obsesi dunia Kristen yang besar, kuat dan bersatu dibawah kepemimpinan Gereja Romawi hanya akan menjadi angan-angan belaka.

Setelah pertemuan Piacenza hingga bulan Oktober, Urbanus melakukan lawatan ke Italia utara dan Perancis selatan untuk menjajaki respon para tokoh tentang Perang Salib. Pada bulan Nopember 1095 sebuah pertemuan besar dihelat di Clermont. Ribuan orang dari berbagai daerah di Perancis berbondong-bondong mengahdiri pertemuan ini. Dinginnya bulan Nopember tidak mengahalangi mereka untuk mendengarkan pidato Urbanus. Mereka mendirikan kemah-kemah di ruang terbuka. Di tengah lautan manusia, Urbanus menyampaikan pidatonya dalam bahasa Perancis.

Wahai rakyat Frank! Rakyat Tuhan yang tercinta dan terpilih! Telah datang kabar memilukan dari Palestina dan Konstantinopel, bahwa suatu bangsa terlaknat yang jauh dari Tuhan telah merampas negara tersebut, negara umat Kristen. mereka hancurkan negara itu dengan perampokan dan pembakaran. Mereka bawa para tawanan ke negara mereka. Dan sebagian lain mereka bunuh dengan disiksa secara sadis. Mereka hancurkan gereja-gereja setelah sebelumnya mereka kotori dan mereka nodai. Mereka taklukkan kerajaan Yunani (Bizantium: Penulis) dan mereka rampas wilayahnya yang sebegitu luasnya hingga seorang musafir tidak akan selesai mengelilingi wilayah itu dalam waktu dua bulan penuh[11].

Pertama-tama pidato di atas menciptakan common enemy bagi Kristen Barat dengan melakukan dua kali penyebutan kelompok yang berkonotasi baik dan buruk. Pertama, kalimat “rakyat Tuhan yang tercinta dan terpilih”. Penyebutan ini digunakan untuk menimbulkan rasa bangga bagi komunikan. Kedua, kalimat “bangsa terlaknat yang jauh dari Tuhan”. Penyebutan ini digunakan untuk menimbulkan rasa benci dan antipati terhadap obyek. Dengan dua penyebutan ini terciptalah garis demarkasi yang tegas antara “kita”, orang baik, dengan “mereka”, orang jahat, yang menjadi musuh bersama.

Selanjutnya pidato tersebut melakukan tebang pilih fakta untuk menguatkan kesan kejahatan dan kebrutalan musuh bersama. Bahwa di suatu periode sejarah, penguasa muslim pernah menghancurkan gereja Makam Suci (holy spulchre) adalah fakta. Pada tahun 1010 al-Hakim bi Amrillah, penguasa dinasti Fatimiyah, menghancurkan gereja Makam Suci. Tetapi ada fakta lain yang berbanding terbalik. Di bawah kepemimpinan al-Ẓāhir, penerus al-Hākim, gereja Makam Suci dibangun kembali. Durant menggambarkan bangunan baru gereja Makam Suci sebagai “… bangunan luas yang bisa menampung 8000 (delapan ribu) orang. Pembangunannya melibatkan teknik dan kecerdasan tertinggi yang ada pada saat itu. Interiornya dihiasi tenunan sutera yang bersulam benang Emas. Di dalamnya terdapat gambar Almasih yang sedang menunggang keledai[12].

Bisa jadi benar juga bahwa para peziarah Makam Suci dari Eropa mendapat gangguan keamanan dari penguasa Seljuk. Tetapi fakta lain menunjukkan bahwa selama Palestina berada di bawah kekuasaan Islam, umat Kristiani yang berdomisili maupun yang berkunjung untuk melaksanakan ritual haji mendapat perlakuan yang baik. Bahkan Durant menyebut, perlakuan buruk dari penguasa Islam hanyalah pengecualian[13].

Tebang pilih fakta di atas dikombinasikan dengan isu pencaplokan wilayah Kristen Bizantium oleh pasukan Islam untuk menanamkan kesan bahwa bangsa Eropa adalah bangsa yang teraniaya. Kesan ini memberikan legitimasi bagi kemungkinan tindakan perang yang akan diambil bangsa Eropa terhadap Umat Islam.

Sejatinya isu pencaplokan bukan hal baru. Sudah sejak abad 7 kekaisaran Romawi terus menerus kehilangan wilayahnya oleh upaya perluasan yang dilakukan pasukan Islam. Yerussalem pun sudah berada di bawah kekuasaan kekhalifahan Islam sejak masa kepemimpinan Umar bin al-Khattab. Karenanya, Calude Cahen menyebut perang salib adalah respon terlambat atas gerakan perluasan Islam[14]. Bahkan jika ditarik lebih ke belakang, maka caplok mencaplok sudah terjadi sejak sebelum Islam, ketika dua negara adidaya, Romawi di barat dan Persia di timur, saling bertukar kemenangan dalam serangkaian peperangan.

Jadi, jika selama ini tiga isu di atas, yaitu: penghancuran gereja, gangguan keamanan dan pencaplokan wilayah, umumnya disebut para sejarawan sebagai penyebab meletusnya Perang Salib, maka sejatinya ketiga hal tersebut hanyalah peristiwa-peristiwa biasa terkait keputusan politik dan tindakan militer yang mendahului Perang Salib. Yang membedakan ketiga peristiwa tersebut dari peristiwa lain adalah kemasannya dalam bentuk propaganda yang berhasil melarutkan suasana emosional masyarakat Eropa dan memobilisasi dukungan massa untuk melakukan penyerangan dalam skala massif ke Yerussalem.

Setelah menyampaikan kondisi kezaliman yang dialami umat Kristiani, Urbanus melanjutkan propagandanya dengan mengatakan:

Di atas pundak siapakah tanggung jawab pembalasan atas kezaliman-kezaliman ini dan tanggung jawab merebut kembali tanah-tanah ini, jika bukan di atas pundak kalian: kalian, hai orang-orang yang mendapat keistimewaan dari Tuhan lebih dari kaum lain berupa kemenangan di dalam peperangan, keberanian besar dan kemampuan mengalahkan orang-orang yang menghadang kalian? Jadikanlah perjalanan pendahulu kalian sebagai peneguh hati kalian: kemenangan Charlemagne dan kemenangan raja-raja lain kalian. Bulatkan tekadmu untuk menuju Makam Suci Almasih, Tuhan kita dan juru selamat kita: makam yang sekarang dikuasai bangsa najis, dan tempat-tempat suci lain yang telah ternodai dan terkotori.[15]

Bagian pertama dari paragraf di atas merupakan presusai yang menyentuh kesadaran. Mereka, para komunikan, diidentifikasi sebagai orang-orang hebat yang dapat mengalahkan siapa saja dalam peperangan. Jika mereka terzalimi, maka hanya merekalah yang dapat membalas kezaliman tersebut. Presuasi itu dikuatkan dengan meminjam nama tokoh untuk diasosiasikan dengan orang-orang yang bersedia mengikuti ajakan perang Urbanus. Dengan kata lain, orang-orang yang bersedia mengikuti Perang Salib akan diidentifikasi sebagai orang-orang hebat seperti Charlemagne.

Di bagian akhir paragraf Urbanus mengidentifikasi perang yang dipropagandakannya sebagai perang suci dengan menyebut hal-hal sakral bagi komunikan, yaitu Makam Suci dan Almasih. Kedua hal sakral ini dihadap-hadapkan dengan para musuh yang disebut sebagai najis dan telah mengkotori tempat-tempat suci komunikan. Sumber lain menyebutkan bahwa Urbanus mengklaim perintah Perang Salib adalah perintah Tuhan, bukan perintah Urbanus. Fulcher, mengutip khutbah Urbanus, mengatakan, “… saya, bukan, melainkan Tuhan, bukan saya, mendorong kalian, wahai tentara Almasih, apapun derajat sosialnya, para ksatria maupun pejalan kaki, kaya ataupun miskin, untuk bergegas memusnahkan bangsa hina ini (Turki Islam – penulis) dari tanah kita dan memberikan pertolongan kepada penduduk Kristen sebelum terlamabat”[16].

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Perang Salib pertama-tama dan terutama digerakkan oleh propaganda Urbanus II yang merepresentasikan Gereja Romawi Barat dan diidentifikasi sebagai perang suci atau perang demi agama.

Namun demikian, tidak semua orang dapat digerakkan menuju medan perang yang sangat berat hanya dengan menyulut kemarahan dan mengobarkan semangat  saja tanpa ada iming-iming duniawi maupun ukhrowi. Orang-orang yang boleh jadi bisa tergerak tanpa iming-iming adalah para tokoh agama. Tetapi perang ini memerlukan sumber daya manusia dan sumber dana yang melimpah. Apalagi Urabnus, sebagaimana dituturkan Jonatahan Riley, tidak menghendaki para tokoh agama ikut andil dalam Perang Salib[17]. Karena itu tidak mengherankan jika Urbanus menyebutkan iming-iming dengan mengatakan:

Janganlah harta dan keluarga menghalangi kalian. Sebab, tanah yang kalian tempati, yang dikelilingi laut dan pegunungan, terlalu sempit untuk menampung seluruh penduduknya dan nyaris tak dapat memberikan kehidupan yang baik untuk kalian. Dan karena itulah kalian saling membunuh, memangsa dan berperang. Banyak dari kalian yang mati karena perang saudara. Bersihkan hati kalian dari kotornya kedengkian! Hentikan permusuhan diantara kalian! Ambillah jalan kalian menuju Makam Suci dan rebutlah tanah itu dari bangsa najis dan kotor! Milikilah tanah itu! Sesungguhnya Yerusalem adalah tanah yang tiada berbanding buah-buahanya. Ia adalah surga kemewahan. Sesungguhnya kota terbesar yang terletak di jantung dunia telah menjerit meminta tolong kalian untuk diselamatkan. Lakukanlah perjalanan ini dengan gembira dan penuh semangat, maka kalian akan terbebas dari dosa-dosa kalian. Yakinlah bahwa kalian akan mendapatkan kemuliaan yang tiada fana di kerajaan langit[18].

Ada tiga iming-iming yang ditawarkan Urbanus. Pertama, jaminan keselamatan untuk harta dan keluarga yang ditinggalkan. Lebih detail Durant menjelaskan:

Urbanus mengambil tanggung jawab untuk membebaskan segala belenggu yang menghalangi pasukan Salib untuk bergabung dengan para pejuang. Kebijakan ini tidak mendapatkan perlawanan berarti dari kaum bangsawan dan tuan tanah yang mungkin saja dirugikan. Urbanus membebaskan budak-budak tuan tanah dari kewajiban kepada tuannya selama masa perang. Semua pasukan Salib diberi dispensasi untuk berpekara di pengadilan gereja, bukan di pengadilan feodal. Urbanus menjamin, selama kepergian mereka gereja akan menjaga keselamatan harta benda meraka[19].

Kedua, kemakmuran di tanah baru, yaitu Yerusalem. Janji kedua ini bisa jadi merupakan respon atas kemelaratan akibat epidemi yang melanda beberapa wilayah Eropa. Barker mengatakan:

kelaparan dan wabah yang melanda tanah air mereka , telah mendorong terjadinya eksodus ke timur untuk mengakhiri kesulitan-kesulitan. Tahun 1094 terjadi epidemi di Flanderen (sekarang masuk wilayah Belgia- penulis) dan meluas hingga ke Bohemia (sekarang masuk wilayah Ceko – Penulis). Tahun 1095 kelaparan melanda Lorraine. Karena itu tidaklah mengherankan jika terjadi gelombang pengungsian ke timur…[20]

Ketiga, iming-iming yang bersifat Spirituil, yaitu pengampunan dosa dan kebahagiaan di hari kiamat. Urbanus memandang Perang Salib sebagai sebuah penebusan dosa sesuai dengan indulgensi atau surat pengampunan yang diberikan gereja[21]. Tentang iming-iming spirituil, Fulcher menceritakan, “… sesungguhnya Almasih memerinthkan hal berikut: setiap orang yang bepergian ke sana (Yerusalem – Penulis) akan diampuni segala dosanya…[22]

Ketiga iming-iming ini menjelaskan bahwa Urbanus membidik berbagai kalangan dari berbagai lapis sosial. Urbanus membidik kalangan raja, bangsawan, kaum feodal dan para ksatria yang gemar berperang demi memperebutkan tanah; kaum papa dan orang-orang lemah yang akan tergiur dengan kebebasan dan kemakmuran; dan mayoritas masyarakat Eropa yang secara psikologis akan merasa terkurangi atau bahkan hilang sama sekali beban dosa dan kesalahan mereka di dunia berkat endulgensi yang diberikan bagi mereka yang turut serta dalam perang Salib. Propaganda Urbanus telah menanamkan keyakinan bahwa Perang Salib bukan sekedar perbuatan yang mendatangkan ridlo Tuhan, tetapi juga merupakan jalan keselamatan (jalan Salib), suatu jalan yang selama ini dianggap menjadi monopoli kaum agamawan[23].

Khutbah Urbanus disambut para hadirin dengan teriakan, Dieu li volt (itu kehendak Tuhan). Gagasan Perang Salib menggelinding ke seluruh penjuru Eropa bagai bola salju yang semakin lama semakin membesar. Dalam masa sembilan bulan Urbanus mengunjungi Montpellier, Bordeux, Tolouse, Nimes dan beberapa daerah lain untuk mengkampanyekan Perang Salib. Urbanus juga mengirim utusan untuk kampanye yang sama ke Genoa, Venezia, Bologna, Pisa dan Milan.

Berbagai golongan masyarakat bergabung di bawah panji Perang Salib dengan bergam motivasi. Mereka tergiur dengan berbagai iming-iming yang ditawarkan Urbanus. Sebagian tertarik menjadi martir Perang Salib dengan harapan mendapat ampunan atas segala dosanya. Para budak tuan tanah berharap dapat terbebas dari kungkungan tuan feodal. Para pembayar pajak berharap mendapat pembebasan. Orang-orang yang terlilit hutang tergiur dengan janji penundaan. Para tahanan berharap dapat menghirup udara bebas dengan mengikuti Perang Salib. Para terhukum mati berharap mendapatkan kehidupannya, jika mereka bersedia mengabdi di Palestina sepanjang hidupnya. Kaum miskin berharap terlepas dari penderitaan kemiskinan yang dialaminya. Kaum pedagang berharap dapat memperluas wilayah pemasarannya. Bahkan orang-orang lemah yang tidak tertarik dengan dunia perang pun bergabung dengan ekspedisi militer Salib karena takut sanksi sosial dan tuduhan sebagai penakut[24].

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa propaganda Urbanus berhasil memobilisasi berbagai lapisan masyarakat Eropa dengan beragam kepentingan untuk bergabung dalam Perang Salib.

D. Pembantaian Yahudi  dan Penjarahan dalam perjalanan Ekspedisi Militer Salib

Urbanus melalui khutbahnya sukses menggelorakan semangat perang demi dan atas nama agama. Kesan sebagai perang agama semakin kuat ketika Urbanus   menyelipkan simbol-simbol agama. Pekik “Dieu li volt” (itu kehendak Tuhan) ditetapkan Urbanus sebagai yel-yel perang[25]. “Exercitus Dei” (Tentara Tuhan) menjadi nama bagi pasukan Salib[26]. Simbol agama yang paling menonjol adalah penggunaan tanda salib di bahu dan di dada atas perintah Urbanus[27].

Tidak hanya itu, Urbanus juga memberikan justifikasi bagi tindak kekerasan yang akan terjadi dalam pertempuran. Perang yang dikobarkannya disebutnya sebagai “Tebusan Kekerasan”, yang patut mendapat pujian. Justifikasi ini diperlukan guna menjelaskan doktrin kasih sayang Kristiani yang tampak bertentangan dengan perang yang meniscayakan kekerasan. Kegelisahan Tancred, salah satu pemimpin pasukan Salib yang tinggal di Italia Selatan, atas ambiguitas makna perang dalam doktrin Kristiani mencerminkan masih adanya keberatan psikologis di benak umat Kristen. Jonathan menggambarkan kegelisahan itu dengan mengatakan:

Tancred sangat menderita akibat kegelisahan yang terus menerus menderanya. Sebab, perang yang akan dilakoninya sebagai ksatria bertentangan dengan ajaran Almasih. Sebenarnya Almasih memerintahkannya agar bersikap toleran dan mengajarkan agar memalingkan pipi kiri kepada orang yang telah memukul pipi kanannya. Tetapi keksatriaan sekuler justru sigap mengalirkan darah. Almasih menasihatinya agar memberikan pakaian dan mantel kepada orang yang memintanya. Tetapi perang meniscayakannya melucuti semua benda yang  menjadi milik musuh. Keluarnya keputusan Paus Urbanus tentang pemberian ampunan dari segala dosa bagi umat kristiani yang berangkat untuk memerangi umat Islam, menambah kekuatan dan semangat Tancred, meskipun ia tetap tidak yakin, apakah perang yang ia jalani merupakan perang demi agama atau demi dunia.[28]

Tetapi berkat doktrin Urbanus, keberatan psikologis itu dapat dihilangkan.

Kesucian Perang Salib sebagaimana propaganda Paus Urbanus dengan berbagai simbol agama yang disematkan di dalamnya tidak berbanding lurus dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Perang Salib yang dipretensikan sebagai perang suci ternoda oleh tindak kriminal dan pembantaian Yahudi yang dilakukan beberapa legiun dari Eropa Barat.

Sejatinya Urbanus telah menetapkan tanggal 15 Agustus 1096 sebagai jadwal keberangkatan ekspedisi militer Salib dan menjadikan Konstantinopel sebagai tempat berkumpulnya seluruh pasukan Salib dari berbagai penjuru Eropa Barat sebelum menuju Palestina. Tetapi pada April 1096, empat bulan sebelum jadwal keberangkatan, beberapa legiun telah berangkat menuju Konstantinopel. Mereka berangkat pada masa-masa kesulitan pangan sebelum panen di musim panas tiba[29].

Perjalanan tiga legiun yang masing-masing dipimpin oleh Gottschalk, Fulcher dan William the Carpenter harus berakhir di Hongaria. Mereka dihancurkan tentara Hongaria dalam baku perang yang dipicu oleh tindak kekerasan dan pengrusakan yang dilakukan pasukan Salib ketika melewati negara tersebut. Sebelumnya pasukan William juga melakukan pembantaian di Rhein yang menewaskan kurang lebih 10.000 (sepuluh ribu) orang Yahudi[30]. Nasib lebih baik dialami oleh legiun yang dipimpin Walter the Penniless dan Peter Hermit. Legiun walter sampai di Konstantinopel dengan selamat pada bulan Juli 1096. Sedangkan legiun Peter sampai di Konstantinopel pada Akhir Juli 1096 setelah kehilangan banyak pasukan ketika melewati Balkan[31].

Pasukan Salib yang berhasil mencapai Konstantinopel kembali melakukan penjarahan dan pengrusakan. Untuk melindungi negaranya, Alexius segera menyeberangkan mereka ke Asia Tengah melalui selat Bosporus. Alexius menyarankan agar mereka menunggu pasukan lain yang memiliki persenjataan lebih lengkap. Tetapi mereka mengabaikan saran Alexius dan bergerak ke Nicea. Kehadiran mereka disambut pasukan Turki. Terjadilah pertempuran yang berakhir dengan kekalahan pasukan Salib dan menewaskan salah satu pemimpin mereka, Walter the Penniless[32].

Demikianlah perjalanan ekspedisi pertama pasukan Salib menggambarkan keterlibatan berbagai kepentingan yang tidak mudah dikontrol oleh komando Gereja. Bisa jadi Urbanus memang tidak menginginkan terjadinya penjarahan dan pembantaian Yahudi. Tetapi semangat Salib yang terlanjur berkobar berubah menjadi monster yang melakukan penjarahan dan pembantaian tanpa dapat dihentikan.

Durant menjelaskan bahwa kekerasan dan penjarahan yang dilakukan pasukan Salib merupakan akibat dari kekurang siapan logistik. Mereka terpaksa melakukan itu untuk memenuhi kebutuhan logistik[33]. Penjelasan yang sama juga diajukan oleh Jonathan Riley. Ia mengatakan, “kekhwatiran pemenuhan logistik mendorong mereka melakukan tindak anarkhis di Balkan”[34]. Lebih jauh Jonatahan menjelaskan bahwa “sebenarnya keinginan untuk mendapatkan kekayaan telah menguasai pikiran mereka. hal itu tampak dalam perlakuan mereka terhadap orang-orang Yahudi ketika meninggalkan Eropa Barat”[35].

Kekerasan terhadap penduduk setempat, khususnya orang Yahudi, dilakukan hampir oleh semua pasukan Salib yang berangkat sebelum jadwal yang ditentukan. Dalam perjalanannya menuju Konstantinopel mereka memalak orang-orang Yahudi dengan ancaman pedang. Kehadiran Legiun Peter Hermit di Trier menebar teror di kalangan Yahudi. Demikian Pula kedatangan legiun Emich of Leiningen di Mainz disambut orang-orang Yahudi sebagai monster yang menakutkan. Jonatahan menduga bahwa pemalakan tersebut sebagai akibat dari persepsi yang salah tentang hukum gereja yang seolah-olah menghalalkan perampasan harta orang-orang non Kristen[36].

Persepsi yang salah ini bukan hanya pada batas perampasan harta, tetapi juga berkembang menjadi penghalalan pembunuhan. Pada tanggal 3 Mei 1096 terjadi pembantaian Yahudi di Speyer yang dilakukan oleh pasukan Emich. Antara tangal 25 sampai dengan 29 Mei 1096 pembantaian Yahudi oleh pasukan Salib terjadi di Mainz. Selama bulan Juni dan awal Juli, Yahudi di Cologne mengalami pengusiran penindasan dan pembunuhan dari Pasukan Salib. Di Trier dan Metz pasukan Salib membuat ladang pembantaian Yahudi. Penderitaan yang sama juga dialami umat Yahudi di Regensburg, Wessili dan Prague[37].

Sangat mungkin bahwa pembantaian dan penjarahan yang dilakukan pasukan Salib bersifat ideologis, bukan kriminal biasa. Mengutip keyakinan yang berkembang di kalangan pasukan Salib dari Perancis, Jonathan mengatakan, “tidaklah fair membiarkan orang-orang yang mengangkat senjata demi memerangi musuh Almasih meninggalkan musuhnya dalam keadaan hidup-hidup”. Di Rouln orang-orang yang telah memberikan komitmen untuk berpartisipasi dalam perang Salib mengatakan, ”Kami berharap memerangi musuh-musuh Tuhan di timur, yaitu orang-orang Yahudi, begitu mata kami melihat mereka. Mereka adalah musuh terbesar Tuhan”. Di benak serdadu Salib telah tertanam keyakinan bahwa Yahudi adalah salah satu sasaran Perang Salib. Sebab, Perang Salib adalah perang demi membela Almasih dan Yahudi adalah orang-orang yang menyalib Almasih. Pasukan Salib dari Perancis, Inggris, Flem dan Lorraine yang bertemu pasukan Emich di Mainz mengklaim bahwa operasi pembantaian Yahudi adalah permulaan perang melawan musuh-musuh Almasih. Sedang Salibis Jerman berkomitmen untuk membersihkan jalan menuju Palestina dengan membunuh orang-orang Yahudi di Rhein. Dithmar, salah seorang pemimpin pasukan Salib berkata bahwa ia tidak akan meninggalkan Jerman sebelum membunuh orang Yahudi[38].

Sebegitu dahsyatnya pengaruh propaganda Urbanus yang memberikan justifikasi bagi tindak kekerasan dalam apa yang disebut dengan Perang Suci, hingga pembantaian dan penjarahan dilakukan dengan nyaman atas nama kesalehan[39]. Apa yang disebut dengan “persepsi yang salah” tidak sepenuhnya salah. Sebab, jika memerangi umat Islam yang dianggap telah menjajah tanah Kristen selama empat setangah abad mendatangkan kemuliaan dan ampunan, maka sangat logis jika memerangi umat Yahudi yang telah menghinakan Almasih dan membunuhnya di tiang salib mendatangkan kemuliaan dan ampunan yang lebih besar[40].

E. Perebutan Kekuasaan antar Pemimpin Pasukan Salib dalam Penaklukan Edessa dan Antiokia

Ekpedisi Salib pertama yang diwarnai pembantaian dan penjarahan tidak berhasil menguasai sejengkalpun wilayah Islam. Keadaan berbalik ketika ekspedisi militer Salib kedua yang lebih terorganisir dan berpengalaman tiba di Konstantinopel. Ekspedisi militer kedua mulai meninggalkan Eropa Barat pada pertengahan Agustus 1096, sesuai jadwal yang telah ditentukan Paus Urbanus. Nama-nama besar bangsawan dan tokoh Eropa Barat tergabung dalam Ekspedisi militer kedua, di antaranya: Huge of Vermandois, saudara kandung raja Perancis, Godfrey of Bouillon, Baldwin, saudara Godfrey, Bohemond of Taranto, Tancred, keponakan Bohemond, Raymond of St. Gilles, Adhemar, duta Paus Urbanus dalam perang Salib, Count Robert of Flanders, Duke Robert of Normandy dan Count Stephen of Blois.

Di antara nama-nama tersebut tidak terdapat nama raja-raja Eropa Barat, seperti Philip I, raja Perancis, William II, raja Inggris dan Henry IV,  raja Jerman. Saat itu mereka sedang menjalani hukuman ekskomunikasi dari Gereja. Tetapi banyak bangsawan Eropa Barat begabung dengan Ekspedisi militer kedua yang mayoritas  berasal dari Perancis. Karena itu, ekspedisi militer kedua sering disebut sebagai “petualangan Perancis” dan perang Salib I disebut sebagai perang Perancis. Sebab, Urbanus, propagandis Perang Salib, adalah orang Perancis; khutbah pertama dilaksanakan di Perancis; dan mayoritas pasukan Salib berasal dari Perancis.

Ekspedisi kedua tiba di Konstantinopel secara bergelombang antara bulan Nopember 1096 sampai dengan mei 1097 melalui jalan yang berbeda. Mereka sepakat untuk tunduk di bawah komando raja Bizantium, Alexius Comnenus, kecuali Raymond. Mereka juga berjanji mengembalikan bekas wilayah Bizantium yang kini dikuasai Turki kepada Alexius, jika berhasil merebutnya. Dimulai pada Bulan April 1907 pasukan Salib menyeberangi selat Bosporus menuju pantai Asia. Dan pada awal Juni 1907 seluruh pasukan Salib sudah berada di depan kota Nicea. Fulcher memperkirakan jumlah pasukan Salib saat itu mencapai 600.000 (enam ratus ribu) tentara. Perkiraan Urbanus lebih kecil dari itu, yaitu 300.000 (tiga ratus ribu) tentara. Nicea menjadi kota pertama yang dikuasai pasukan Salib.

Pasukan Salib mendapatkan kemenangan pertamanya atas pasukan Turki Islam pada awal juli 1097 dalam pertempuran Dorylaeum. Kemudian secara berutrut-turut mereka menyusuri Akshehir, Konya dan Ereghli untuk mematahkan pertahanan Turki yang mencoba menghadang laju mereka. Di Konya, legiun Baldwin dan Tancred berpisah dari pasukan utama menuju tenggara untuk melanjutkan penaklukan di Adan, Torsus, Cilicia, Iskenderun. Setelah penaklukan Iskanderun, mereka bergerak menuju Edessa.

Sementara itu pasukan utama bergerak ke arah timur laut menuju Caesarea, kemudian kembali ke arah selatan menuju Antiokia. Jalur perjalanan pasukan utama berpotongan dengan jalur perjalanan Pasukan Baldwin dan Tancred di Marash. Tancred bergabung dengan pasukan utama menuju Antiokia, sementara Baldwin melanjutkan perjalanan ke Edessa dan menaklukkannya pada tanggal 10 Maret 1097. Di bawah kekuasaan Baldwin, Edessa menjadi keemiran pertama pasukan Salib.

Pasukan utama sampai di antiokia pada 21 Oktober 1097 dan mengepungnya hingga 3 Juni 1098. Setelah terkepung selama 8 bulan akhirnya Antiokia jatuh ke tangan pasukan Salib. Tiga hari setelah kemengan pasukan Salib, bala bantuan pasukan Islam dari Mosul di bawah pimpinan Karboga datang. Mereka mengepung tentara Salib yang berada di dalam benteng Antiokia. Pengepungan ini berlangsung hingga tanggal 28 Juni dan berujung pada pertempuran antara dua pasukan yang dimenangkan pasukan Salib[41].

Perselisihan antar pemimpin pasukan Salib mulai muncul ketika Tancred dan Baldwin sama-sama ingin membangun kekuasaan di Torsus. Barker menyebutkan bahwa Tancred bergabung dengan pasukan utama setelah diusir Baldwin dari Torsus[42]. William of Tyre menceritakan bahwa Tancred telah sampai di Torsus dan mengibarkan benderanya sebelum Baldwin datang. Tetapi Baldwin tidak terima dan menuntut agar bendera Tancred diturunkan. Perselisihan keduanya nyaris memicu perang saudara. Menurut William, Tancred lebih memilih mengalah untuk menghindari perang dan meninggalkan Torsus[43].

Perselisihan kembali terjadi pasca penaklukan Antiokia. Seperti kesepakatan semula seharusnya benteng Antiokia menjadi milik Alexius. Tetapi Bohemond mengklaim bahwa dialah yang paling berhak atas benteng tersebut, sebab Alexius desersi ketika pasukan Salib dikepung di dalam benteng Antiokia. Raymond menolak dan bersikukuh bahwa Antiokia milik Alexius sesuai perjanjian[44]. Perselisihan ini berlangsung beberapa bulan. Akhirnya pada bulan Nopember Raymond meninggalkan Antiokia menuju Ma’arrat Nu’man. Tetapi pasukan Raymond masih menduduki dua wilayah di Antiokia. Bohemond baru dapat mengusir pasukan Raymond dari wilayah Antiokia pada Januari 1099.

Ambisi Baldwin untuk menguasai Edessa menjadi tanda tanya besar. Sebab, Edessa bukanlah jalur menuju Palestina. Sangat mungkin bahwa Baldwin memang telah melupakan tujuan utama pasukan Salib, yaitu merebut kembali Palestina dari tangan penguasa muslim. Dengan kata lain penaklukan Edessa adalah kepentingan kekuasaan sebagian pemimpin pasukan Salib, bukan bagian dari rencana ekspedisi Salib.

Demikian pula perselisihan Bohemond dengan Raymond menunjukkan bahwa motif kekuasaan telah merasuki pikiran para pemimpin pasukan Salib. Bahkan bisa jadi sejak awal mereka memiliki agenda tersendiri di luar agenda yang dipropagandakan Urbanus. Mereka tidak bermaksud membantu Bizantium mengembalikan bekas wilayahnya yang dikuasai Turki Islam, melainkan ingin membangun kekuasaanya sendiri di timur.

Tanda tanya lebih besar patut diajukan terkait, siapakah panglima tentara Salib? Berdasarkan kesepakatan di Konstantinopel seharusnya Alexius yang memegang tongkat komando. Tetapi atas perintah siapakah, Tancred dan Baldwin menyempal dari pasukan utama menuju wilayah yang bukan merupakan jalur perjalanan ke Palestina?

Pasukan Salib memang tidak memiliki pimpinan tertinggi. Mereka adalah gabungan resimen atau legiun yang masin-masing dipimpin oleh seorang ksatria atau tuan tanah yang telah terbiasa berperang demi sejengkal tanah. Kaum agamawan Kristen menggambarkan Perang Salib sebagai kerjasama tanpa pemimpin yang digerakkan oleh Roh Kudus dalam satu barisan bersama[45]. Faktanya, mereka tidak digerakkan oleh Roh Kudus, melaikan oleh ambisi kekuasaan.

Jika ekspedisi pertama diwarnai pembantaian dan penjarahan seusai dengan justifikasi Urbanus, maka awal perjalan ekspedisi kedua menjelaskan adanya motif-motif kekuasaan yang memang menjadi salah satu iming-iming yang ditawarkan Urbanus.

F. Sadisme dalam Penaklukan Yerusalem

Konflik politik antara Bohemond dan Raymond membuat para serdadu Salib muak dan bosan. Mereka menuntut agar pasukan Salib segera melanjutkan perjalanan menuju Palestina, seperti tujuan semula. Menurut William Tyre, bisa jadi tuntutan mereka dilandasi kekhawatiran akan keselamatan nyawa mereka akibat epidemi lepra yang menyerang Antiokia dan telah merenggut banyak korban, di antaranya kematian Adhemar[46]. Para serdadu yang marah menghancurkan benteng Ma’arrat Nu’man yang menjadi basis kekuatan Raymond. Mereka juga mengancam akan melakukan revolusi di Antiokia, Pusat kekuasaan Bohemond[47].

Pada Januari 1098 Raymond meninggalkan Ma’aart Nu’man diikuti Robert Normandy dan Tancred. Bulan Pebruari Godfrey dan Robert Falnders turut bergabung. Hanya Bohemond dan Baldwin yang tidak bergabung. Mereka berdua menunggui kerajaan barunya di Edessa dan Antiokia. Pasukan Salib telah berkumpul di Arqah pada akhir Maret 1099. Kemudian mereka bergerak melewati Shur, Yafa dan sampai di Ramallah pada 3 Juni 1099. Empat hari kemudian, tetaptnya pada tanggal 7 Juni 1099 pasukan Salib telah mengepung benteng Yerusalem. Sebelumya Betlehem telah jatuh di tangan Tancred. Setelah pengepungan berlangsung lebih dari satu bulan, Yerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib pada tanggal 15 Juli 1099.

Keberingasan pasukan Salib tersaji kembali saat mereka memasuki Yerusalem. Secara ringkas Barker menggambarkan keberingasan itu dengan menyebutkan bahwa pasukan Salib melakukan pembantaian mengerikan terhadap warga sipil. Dan manusia beserta kudanya berjalan dalam genangan darah[48]. Durant, mengutip Raymond, salah seorang saksi mata, menggambarkan keberingasan itu secara detail dengan mengatakan:

Kami melihat hal-hal yang menakjubkan. Kepala-kepala orang Islam dipenggal. Sebagian dibunuh dengan hunjaman anak panah. Sebagian lain dipaksa naik ke puncak benteng, atau disiksa berhari-hari lalu dibakar. Tumpukan kepala, tangan dan kaki berserakan di jalan-jalan. Setiap orang yang berjalan di atas kudanya akan berjalan di atas tumpukan tubuh manusia dan kuda… Perempuan-perempuan dibunuh dengan pedang dan tombak. Bayi-bayi ditarik kakinya dari putting ibunya…70.000 (tujuh puluh ribu) umat Islam yang masih tersisa di kota dibantai. Orang-orang Yahudi yang masih hidup digiring ke sinagog lalu dibakar hidup-hidup.[49]

Pembantaian terhadap warga sipil Yerusalem tidak dilakukan secara sporadis, melainkan sebuah tindakan terorgananisir yang dilakukan para pemimpin bersama pasukannya. William Tyre menceritakan:

Godfrey bersama pasukannya menyisir kota sembari menghunus pedang dan membunuh siapa saja penduduk kota yang mereka temui tanpa memandang usia dan kondisi. Di semua tempat terjadi pembantaian mengerikan. Di setiap sudut terdapat banyak kepala yang terpenggal, sehingga sulit melewati jalan manapun kecuali harus berjalan di atas tumpukan jasad orang-orang yang terbunuh. Para pemimpin bergerak menuju pusat kota melalui jalan yang berbeda sambil melakukan aksi pembantain yang tidak mungkin diceritakan. orang-orang yang haus darah musuh meniru tindakan para pemimpin. Mereka tidak memiliki tujuan selain melakukan penghancuran[50].

Bukan hanya Godfrey, tetapi Raymond, Tancred dan pemimpin lain juga melakukan hal yang sama. Raymond dan pemimpin lain yang menyerbu Yerusalem dari arah gunung Zion memasuki kota sedikit lebih terlambat melalui gerbang selatan. Mereka berpencar menuju pusat kota. Orang-orang yang selamat dari pembantaian Godfrey dan pasukannya dihadang kelompok Raymond dan dibantai seperti pembantaian yang dilakukan Godfrey. Dan orang-orang yang mencoba berlindung di masjid bertemu dengan kelompok Tancred. mereka dihabisi dengan cara yang sama. Para pemimpin lain dari pasukan Salib yang melihat banyak orang berlari ke arah masjid segera mengejar mereka. Sekelompok pasukan kafaleri dan infanteri memasuki masjid dan menyembelih orang-orang yang berlindung di sana seperti menyembelih kambing. Mereka melakukan pembantaian tanpa sedikitpun rasa belas kasihan, hingga seluruh tempat tergenang darah para korban pembantaian[51].

Kebiadaban pasukan Salib terus berlanjut. Mereka memburu orang-orang yang masih tersisa dan bersembunyi di rumah-rumah. Jika ditemukan, orang-orang itu akan diseret keluar dan disembelih di hadapan umum, seperti menyembelih kambing. Perempuan dan anak-anak tidak luput dari keganasan pasukan Salib. Sebagian dari mereka dipenggal dan sebagian lain dilempar dari tempat yang tinggi. Mereka juga menjarah rumah-rumah penduduk dengan keyakinan bahwa harta yang berhasil mereka kuasai menjadi miliknya, meskipun berasal dari warga sipil [52].

William Tyre membenarkan tindakan pembantaian terhadap warga sipil dengan mengatakan, “Itu adalah keputusan adil Tuhan yang dikenakan kepada orang-orang yang telah mengotori tempat suci Almasih dengan simbol-simbol khurafat dan menutup tempat itu bagi rakyat Almasih yang beriman. Karenanya, mereka harus menebus kesalahannya dengan kematian, hingga seluruh tempat suci itu tergenang darah korban[53].

Dengan nada bangga Fulcher menceritakan pembantaian itu dengan mengatakan:

Raymond dan pasukannya, yaitu orang-orang yang mengepung dari arah lain tidak mengetahui apa yang terjadi (kemenangan pasukan Salib – Penulis) hingga melihat orang-orang Timur (penduduk Yerusalem – penulis) melompat dari pagar kota. Begitu mengetahui hal tersebut, mereka segera berhamburan memasuki kota dan bergabung dengan koleganya mengejar dan menyembelih  musuh-musuh jahat mereka tanpa henti… orang-orang yang naik ke menara kuil Sulaiman dipanah hingga jatuh tersungkur. Hampir sepuluh ribu kepala dipenggal di kuil itu. Kalau kamu berada di sana kakimu akan berlumuran darah sampai mata kaki. Apa yang ingin aku katakan? Tak seorangpun tersisa, mereka tidak memberi ampun kepada perempuan dan anak-anak.[54]

Sekali lagi, justifikasi kekerasan yang diberikan Urbanus telah melahirkan sadisme dalam penaklukan Yerusalem. Bukan hanya umat Islam yang menjadi korban, tetapi juga orang-orang Yahudi. William Tyre, penulis sejarah Perang Salib yang lahir tahun 1130, bahkan membenarkan kebiadaban dan sadisme itu dengan mengatasnamakan Tuhan. Bisa jadi Urbanus tidak pernah berharap, bahkan tidak pernah membayangkan bahwa justifikasi kekerasan untuk menghilangkan perasaan bersalah ketika tentara Salib harus membunuh lawannya di medan perang, dapat berkembang menjadi pembenaran terhadap pembantaian warga sipil secara sadis, kejam dan biadab.

G. Untung Rugi Perang Salib

Konflik lama antara Gereja dan penguasa sekuler muncul setelah Yerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib. Mereka berselisih tentang siapakah yang berhak memimpin kota suci Yerusalem. Dalam pertemuan para pemimpin pasukan Salib yang diselenggarakan pada tanggal 22 Juli 1099 sebagian kecil peserta mengusulkan agar pemimpin Yrusalem diambil dari kelompok pemuka agama. usul ini tidak mendapat tanggapan. Mereka lebih memilih pemimpin sekuler. Raymond dicalonkan sebagai pemimpin. Tetapi ia menolak dengan alasan bahwa ia tidak ingin memerintah di tempat dimana Almasih menderita di atas tiang salib. Barker meragukan alasan ini. Ia menduga bahwa Raymond sejatinya lebih tergiur dengan kekuasaan yang akan dibangunnya di Tripoli.

Godfrey menjadi pilihan setelah Raymond menolak. Ia diangkat sebagai penguasa Yerusalem dengan kedudukan sebagai “pelindung Makam Suci” bukan sebagai raja. Dua pekan setelah penaklukan Yerusalem, Godfrey berhasil memukul mundur pasukan Mesir di Asqalan yang mencoba merebut kembali Yerusalem.

Godfrey meninggal pada tahun 1100 dan kedudukannya digantikan oleh adiknya, Baldwin. Tidak seperti Godfrey, Baldwin menjuluki dirinya sebagai raja, bukan “pelindung Makam Suci”. Sedangkan pemerintahan di Edessa dikendalikan oleh pengganti Baldwin, yiatu Baldwin de Burgh yang kemudian dikenal dengan nama Baldwin II. Pengangkatan Baldwin menandai berdirinya kerjaan Latin Barat di timur. Awalnya kerajaan ini hanya membawahi dua keemiran, yaitu: Edessa yang dipimpin Baldwin II dan Antiokia di bawah pimpinan Bohemond yang kemudian digantikan keponakannya, Tancred. Pada tahun 1102 Raymond dengan bantuan Alexius berhasil membangun keemiran yang kemudian dikenal dengan nama keemiran Tripoli. Tetapi kota tripoli sendiri baru dapat dikuasai Raymond pada tahun 1109. Raymond juga menyatakan tunduk kepada kerajaan Yerusalem. Dengan demikian Kerajaan Yerusalem membawahi tiga keemiran.

Para pelaku utama Perang Salib telah mendapatkan apa yang diiming-imingkan Urbanus dalam propagandanya. Godfrey, Baldwin, Bohemond, Tancred dan Raymond, masing-masing mendapatkan bagian kekuasaan di tanah yang ditaklukkannya. Para pedagang Genoa, Pisa dan Venezia yang selama berlangsungnya perang memberikan bantuan logistik melalui jalur laut tengah ke pantai Palestina, mendapat imbalan kekuasaan di kota pantai Yafa, Akka dan Shur. Dengan kekuasaan tersebut para pedagang Italia dapat menguasai jalur perdagangan di Laut Tengah. Para serdadu miskin mendadak menjadi kaya. Jonathan menyatakan bahwa di Yerusalem banyak orang miskin berubah menjadi kaya. Para serdadu yang masih selamat, hidup dalam kemewahan[55].

Urbanus sendiri, sebagai aktor utama Perang Salib, mendapat sukses besar, karena berkat propagandanya pasukan Kristen berhasil merebut kota suci Yerusalem. Kepausan Roma juga diuntungkan dengan jargon “Perang Salib” yang dijadikan senjata untuk kepentingan apapun, termasuk untuk memerangi kerajaan Eropa sendiri. Tetapi penggunaan jargon ini secara berlebihan pada akhirnya justru meruntuhkan kekuasaan Paus di Eropa[56].

Di luar sukses itu, Urbanus menderita beberapa kerugian. Penolakan kaum bangsawan untuk mendirikan negara teokratis Yerusalem di bawah pimpinan tokoh agama, merupakan tamparan keras bagi kelompok Gereja Romawi. Para bangsawan yang mengangkat senjata atas seruan Urbanus justru bermain untuk kepentingan profan mereka sendiri, bukan untuk kepentingan penyatuan dunia Kristen di bawah pimpinan Gereja Romawi. Kerajaan Latin di timur tidak lagi berada di bawah hegemoni Gereja Romawi, seperti kerajaan-kerajaan Latin di barat yang tunduk pada titah Geraja. Bantuan pasukan Salib yang dimaksudkan untuk memperbaiki hubungan persaudaraan dengan Gereja Yunani justru menciptakan konflik baru antara bangsawan barat dengan Alexsius, penguasa Kristen timur di Bizantium.

Kerugian Gereja Romawi lebih besar lagi ketika satu per satu kerajaan Latin di timur jatuh ke tangan penguasa Islam dan seluruh pasukan Salib dipulangkan paksa ke negara asalnya. Bahkan sebagian sejarawan Barat mengakui bahwa keberhasilan pasukan Salib bukan semata-mata karena kekuatan mereka, tetapi juga diuntungkan oleh perpecahan yang terjadi dalam dunia Islam. Barker mengatakan, “Seandainya pasukan Salib datang sepuluh tahun sebelum atau sesudah kemenangan mereka, pasti tentara Turki akan melempar mereka ke laut”.[57]

  Kekalahan itu memunculkan tanda tanya, bagaimana mungkin “Tentaran Tuhan” bisa dikalahkan oleh “Tentara Setan”? Durant menggambarkan keraguan itu dengan mengatakan, “…orang-orang yang ragu mengatakan bahwa kekalahan Perang Salib membantah klaim Paus bahwa ia adalah “Wakil Tuhandi bumi. Bahkan ketika seorang pendeta mengumpulkan dana untuk Perang Salib berikutnya, seseorang yang mendengar seruan mereka malah memanggil seorang pedagang keliling dan memberinya uang atas nama Muhammad (Rasulullah ṣalla Allahu ‘alayhi wa sallam). Sikap itu merupakan ejekan atau sindiran kepada pendeta bahwa Muhammad (Rasulullah ṣalla Allahu ‘alayhi wa sallam ) ternyata lebih agung dari pada Almasih[58].

H. Kesimpulan

Suatu propaganda presuasif dan koersif yang dilakukan oleh seorang pemuka agama Kristen bernama Paus Urbanus II sukses menggelorakan semangat perang suci melawan musuh Almasih untuk merebut kembali Yerusalem dari tangan penguasa Islam. Sejarawan Eropa menyebutnya sebagai Perang Salib.

Ada tiga bagian yang menarik dalam propaganda Urbanus. Pertama, penyebutan non Kristen sebagai bangsa “najis” dan “terlaknat”  serta penyebutan umat Kristen sebagai “Rakyat Tuhan”. Bagian ini merupakan upaya untuk menciptakan common enemy dan menanamkan kebencian kepada umat non Kristen. Bagian ini sekaligus membuat garis demarkasi yang tegas antara “kita” sebagai Kristen yang mulia dan “mereka” sebagai musuh kristen yang najis dan terlaknat.

Kedua, Urbanus melakukan tebang pilih fakta, yaitu dengan memilih bagian terburuk dalam sejarah Islam yang dapat memicu kemarahan Umat Kristen, bukan dengan menggambarkan Islam secara utuh. Ada tiga isu yang diangkat Urbanus untuk menyulut kemarahan Umat Kristen, yaitu: penghancuran Makam Suci, gangguan kemanan terhadap para peziarah Yerusalem dari Eropa dan pencaplokan wilayah. Ketiga isu ini hanyalah peristiwa biasa, kalau saja tidak dikemas dalam sebuah propaganda yang dapat meledakkan amarah Eropa.

Tetapi kemarahan saja tidak cukup menggerakkan masyarakat Eropa Barat untuk mengarungi medan perang. Karena itu bagian ketiga dari propaganda Urbanus berisi iming-iming untuk membidik seluruh lapisan sosial masyarakat Eropa. Iming-iming yang disampaikan Urbanus dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu: materiil dan spirituil. Yang bersifat materiil adalah jaminan keamanan bagi harta dan keluarga yang ditinggalkan, kekayaan dan kekuasaan jika dapat merebut Yerusalem, peringanan hukum bagi para terpidana, pembebasan vassal dan budak dari belenggu tuannya, serta tanah yang luas dan subur di Palestina. Sedangkan yang bersifat spirituil adalah indulgensi dan kemuliaan di akhirat.

Propaganda Urbanus, sebagai representasi Gereja Romawi, dilakukan pada saat yang tepat, yaitu ketika Bizantium dan otoritas politik Eropa Barat sedang tunduk kepada titah Gereja Romawi. Perpaduan kekuasaan politik dan propaganda yang apik berhasil menggelorakan semangat perang, tidak saja di kalangan lapisan bawah, tetapi juga di lingkungan raja, bangsawan, ksatria, tuan tanah dan pedagang di Eropa Barat.

Dengan semangat perang yang menggelora, berbagai lapisan masyarakat Eropa Barat berbondong-bondong berangkat ke Konstantinopel untuk selanjutnya menyeberangi selat Bosporus dan menuju Yerusalem. Mereka berkelompok dalam satuan garnisun atau resimen yang otonom. Masing-masing garnisun atau resimen tidak tunduk pada satu komando tertinggi.

Dalam perjalanannya, pasukan Salib melakukan pembantaian terhadap umat Yahudi dan melakukan penjarahan. Tindakan pembantaian ini dilatarbelakangi keyakinan bahwa sasaran Perang Salib adalah musuh Almasih. Dan Yahudi merupakan musuh terbesar Almasih. Orang-orang Yahudilah yang membunuh Almasih di tiang Salib. Dan tindakan penjarahan didasari keyakinan diperbolehkannya merampas harta non Kristen.

Ekspedisi pertama pasukan Salib tidak berhasil memasuki Asia. Bahkan beberapa garnisun tidak berhasil mencapai Konstantinopel. Mereka tercerai-berai akibat terlibat perang dengan penguasa Balkan dalam perjalanannya menuju Konstantinopel. Perang ini dipicu kemarahan penduduk setempat atas kerusuhan dan penjarahan yang dilakukan oleh tentara Salib. Beberapa Garnisun yang berhasil mencapai Konstantinopel dikalahkan pasukan Turki Islam begitu meraka menginjakkan kaki di Asia.

Ekspedisi kedua merupakan pasukan yang lebih teroganisir dan terlatih yang diikuti oleh banyak kaum bangsawan dan ksatria. Mereka berhasil memenangkan banyak pertempuran melawan Turki Islam. Nicea menjadi kota pertama yang jatuh ke tangan pasukan Salib. Setelah mematahkan perlawanan pasukan Turki Islam di Dorylaeum, Akshehir, Konya, Ereghli, Adan, Torsus, Cilicia dan Iskanderun akhirnya garnisun di bawah pimpinan Baldwin menaklukan Edessa.

Perjalanan Baldwin ke Edessa mengindikasikan bahwa ia memiliki agenda lain di luar agenda Urbanus untuk merebut kembali Yerusalem. Sebab, Edessa berada jauh di luar jalur perjalanan dari Nicea menuju Yerusalem. Di samping itu perjalanan Baldwin ke Edessa di luar jalur rombongan pasukan utama yang saat itu bergerak menuju Antiokia. Pemisahan diri Baldwin dari pasukan utama juga menunjukkan bahwa tiap tokoh memiliki pasukan sendiri yang bersifat otonom dan tidak tunduk pada komando pasukan lain.

Ketika di Torsus terjadi insiden yang melibatkan Baldwin dan Tancred. Baldwin tidak terima ketika Tancred mengibarkan benderanya di Torsus sebagai simbol kekuasaan Tancred atas Torsus. Insiden ini berakhir dengan terusirnya Tancred dari Torsus yang kemudian bergabung dengan pasukan utama menuju Antiokia. Pertikaian Baldwin dengan Tancred membuktikan bahwa motif kekuasaan telah memenuhi pikiran mereka dan mengalahkan propaganda Urbanus yang menggerakkan pasukan ke Yerusalem untuk tujuan agama.

Keberadaan motif kekuasaan di benak para politisi pasukan Salib semakin nyata ketika Bohemond berebut kekuasaan di Antiokia dengan Raymond. Seharusnya Antiokia menjadi Hak Alexius, kaisar Bizantium. Sebab, Antiokia merupakan bekas wilayah Bizantium yang direbut Turki Islam. Dan ketika di Konstantinopel para pemimpin Pasukan Salib telah sepakat untuk mengembalikan bekas wilayah Bizantium yang berhasil direbut pasukan Salib kepada Alexius. Tetapi Bohemond mengklaim bahwa Antiokia menjadi miliknya. Sebab Alexius melakukan desersi ketika pasukan Salib terkepung oleh pasukan Turki Islam hampir sebulan di dalam benteng Antiokia. Raymond menolak klaim tersebut. Meskipun akhirnya kalah dan harus terseingkir dari Antiokia, Raymond masih menempatkan anak buahnya untuk menguasai dua wilayah di Antiokia. Raymond sendiri mendapatkan kekuasaan baru di Ma’arrt Nu’man.

Konflik panjang Bohemond dengan Raymond memicu kemarahan para serdadu yang sudah lama ingin segera melanjutkan perjalanan menuju Yerusalem. Mereka membakar benteng Ma’arrat Nu’man dan berjanji akan melakukan revolusi di Antiokia, kalau pasukan Salib tidak segera berangkat menuju Yerusalem. Akhirnya seluruh pimpinan bersama pasukannya melupakan sejenak konflik diantara mereka dan bergerak menuju Yerusalem. Hanya Baldwin dan Bohemond yang tidak turut bergabung dalam penyerbuan ke Yerusalem. Mereka berdua menunggui kerajaan barunya di Edessa dan Antiokia.

Setelah terkepung selama satu bulan lebih, Yerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib. Tindakan sadis dan biadab mengiringi penaklukan Yerusalem oleh pasukan Salib. Secara terorganisir mereka membunuh warga sipil Yerusalem tanpa pandang usia, kondisi dan jenis kelamin. Berbagai seni pembunuhan dipertontonkan pasukan Salib dalam pembantaian warga sipil. Bukan hanya umat Islam yang menjadi sasaran pembantaian. Orang-orang Yahudi yang masih tersisa digiring ke sinagog dan dibakar hidup-hidup. Mereka juga menjarah apa saja yang bisa djarah dari harta milik penduduk kota. Di samping terorganisir, pembantaian itu juga bersifat ideologis. William Tyre menyebut aksi pembantaian itu sebagai keadilan Tuhan yang dikenakan kepada musuh-musuh Almasih.

Propaganda Urbanus telah membentuk watak-watak bengis dan haus kekuasaan yang mangatasnamakan kesalehan.

Perebutan kekuasaan kembali terjadi pasca penaklukan Yerusalem. Sebagaian peimpinan pasukn Salib mengusulkan agara Yerusalem, sebagai kota suci, dipimpin oleh tokoh agama. Tetapi usul ini tidak mendapat tanggapan. Mayoritas pimpinan lebih memilih tokoh sekuler sebagai penguasa Yerusalem. Godfrey akhirnya terpilih sebagai penguasa Yerusalem dengan gelar “Pelindung Makam Suci”. Bukan “raja Yerusalem”. Sepeninggal Godfrey, Baldwin diangkat sebagai penggantinya. Tetapi Baldwin menggelari dirinya sebagai “raja Yerusalem”, bukan lagi sebagai “pelindung Makam Suci”. Pengangkatan Baldwin menandai beridirinya kerajaan Latin pertama di timur.

Godfrey berkuasa di Yerusalem. Baldwin mendapatkan Edessa kemudian Yerusalem. Bohemond mendapatkan Antiokia yang kemudian digantikan Tancred. Raymond dengan bantuan Alexius bertahta di Tripoli. Pedagang Genoa, Pisa dan Venezia mendapat imbalan Yafa, Akka dan Shur. Dengan menguasai kota-kota di pantai Palestina mereka dapat mengembangkan wilayah perdagangannya. Para serdadu miskin mendadak kaya dengan hasil jarahannya. Para pimpinan pasukan Salib dan seluruh pihak yang terlibat di dalamnya mendapatkan bagian kekuasaan dan kekayaan.

Sebagai penggagas dan penggerak, tentu Urbanus berhak mengklaim kemenangan pasukan Salib sebagai kemenangannya. Kepausan Gereja Romawi yang terwakili Urbanus mendapat berkah jargon “Perang Salib” yang dapat dijadikan sebagai kekuatan militer untuk memerangi siapa saja, termasuk penguasa sekuler Eropa Barat dan kelompok-kelompok kristen yang menentang Gereja.

Tetapi keuntungan Urbanus dan Gereja Romawi bukannya tanpa kerugian. Kegagalan membangun negara teokratis di Yerusalem merupakan tamparan keras bagi Gereja Romawi. Demikian pula konflik antara Alexius dengan pimpinan pasukan Salib yang dipicu oleh perebutan kekuasaan mengkandaskan cita-cita Urabnus untuk menyatukan dunia Kristen di bawah kendali Gereja Romawi.

Kerugian lebih besar terjadi ketika tingkat kepercayaan masyarakat Eropa Barat terhadap Gereja menurun akibat kekalahan demi kekalahan yang dialami pasukan Salib pada masa-masa berikutnya. Jargon “Perang Salib” yang digunakan untuk memerangi sesama Kristen di Eropa juga memiliki andil dalam menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat Eropa terhadap Gereja.

Perang Salib telah menaikkan pamor Gereja Romawi, tetapi juga menjadi awal dari akhir kekuasaan Gereja itu sendiri.©2013

Daftar Pustaka

Barker, Ernest, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, Terj., Dr. al-Sayyid al-Bāz al-Uraynī, Beirut, Dār al-Nahḍah al-‘Arabiyyah, tt

Cahen, Calude, al-Sharq wa al-Gharb Zamana al-Ḥurūb al-Ṣalibiyyah, terj., Ahmad al-Shayh, Cairo, Sīna li al-Nashr, 1995

Durant, William James, Qiṣṣat al-Haḍārah, Terj., Dr. Zaki Najib Mahmud dkk, Beirut, Dār al-Jīl, 1988

Fulcher of Chartes, Tārīkh al-Ḥamlah ila al-Quds, terj., Ziyad Jamil al-‘Asali, Aman, Dār al-Shurūq, 1990

Muannis, Husain, Dr., Aṭlasu Tārikh al-Islām, Cairo, al-Zahra, 1987

Smith, Jonatahan Riley, al-Ḥamlah al-Ṣalībiyyah al-Ūlā wa Fikrat al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, terj., Dr. Muhammad Fathi al-Shā’ir, Cairo, Al-Hay`ah al-‘Āmmah li al-Kitāb, 1999.

William of Tyre, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, terj., Dr. Hasan Habsy, Cairo, al-Ahram, 1988


[1] William James Durant, Qiṣṣat al-Haḍārah, Terj., Dr. Zaki Najib Mahmud dkk, (Beirut: Dār al-Jīl, 1988), 14:352.

[2] Ibid.

[3] Ibid, 14:396.

[4] Hildebrand adalah nama asli Gregorius VII sebelum menjabat Paus.

[5] Ibid, 14:400

[6] Ibid: 14:390

[7] Ernest Barker, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, Terj., Dr. al-Sayyid al-Bāz al-Uraynī, (Beirut: Dār al-Nahḍah al-‘Arabiyyah, tt), 19.

[8] Ibid, 20.

[9] William James Durant,  Qiṣṣat al-Haḍārah, 15:14.

[10] Ibid.

[11] Ibid, 15:12.

[12] Ibid.

[13] Ibid, 15:11.

[14] Calude Cahen, al-Sharq wa al-Gharb Zamana al-Ḥurūb al-Ṣalibiyyah, terj., Ahmad al-Shayh, (Cairo: Sīna li al-Nashr, 1995), 25.

[15] William James Durant,  Qiṣṣat al-Haḍārah,, 15:12.

[16] Fulcher of Chartes, Tārīkh al-Ḥamlah ila al-Quds, terj., Ziyad Jamil al-‘Asali, (Aman: Dār al-Shurūq, 1990), 38

[17] Jonatahan Riley Smith, al-Ḥamlah al-Ṣalībiyyah al-Ūlā wa Fikrat al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, terj., Dr. Muhammad Fathi al-Shā’ir, (Cairo: Al-Hay`ah al-‘Āmmah li al-Kitāb, 1999), 55.

[18] William James Durant,  Qiṣṣat al-Haḍārah, 15:15-16.

[19] Ibid, 15:16.

[20] Ernest Barker, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, 22.

[21] Jonathan Riley, al-Ḥamlah al-Ṣalībiyyah, 50.

[22] Fulcher of Chartes, Tārīkh al-Ḥamlah ila al-Quds, 38.

[23] Jonathan Riley Smith, al-Ḥamlah al-Ṣalībiyyah,, 56.

[24] William James Durant,  Qiṣṣat al-Haḍārah, 15:18.

[25] Ibid, 15:16.

[26] Jonathan Riley Smith, al-Ḥamlah al-Ṣalībiyyah, 38.

[27] Ibid, 52. Lihat pula William of Tyre, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, terj., Dr. Hasan Habsy, (Cairo, al-Ahram, 1988), 1:108.

[28] Ibid, 71.

[29] Ibid, 93.

[30] Ernest Barker, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, 26.

[31] Ibid.

[32] William James Durant,  Qiṣṣat al-Haḍārah, 15:20.

[33] Ibid, 15:19.

[34] Jonathan Riley Smith, al-Ḥamlah al-Ṣalībiyyah, 99.

[35] Ibid, 100.

[36] Ibid.

[37] Ibid, 97.

[38] Ibid, 104-105.

[39] Lihat William James Durant,  Qiṣṣat al-Haḍārah, 15:19

[40] Jonathan Riley Smith, al-Ḥamlah al-Ṣalībiyyah, 105.

[41] Perjalanan ekspedisi kedua hingga kejatuhan Antiokia dirangkum dari Jonathan Riley Smith, al-Ḥamlah al-Ṣalībiyyah,  Ernest Barker, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah dan Dr. Husain Muannis, Aṭlasu Tārikh al-Islām, (Cairo:al-Zahra, 1987)

[42] Ernest Barker, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, 34.

[43] William of Tyre, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, 1:238-239.

[44] Jonathan Riley Smith, al-Ḥamlah al-Ṣalībiyyah, 112. Lihat pula Ernest Barker, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, 35.

[45] Ibid, 136.

[46] William Tyre, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, 2:20.

[47] Jonathan Riley Smith, al-Ḥamlah al-Ṣalībiyyah, 112.

[48] Ernest Barker, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, 36.

[49] William James Durant,  Qiṣṣat al-Haḍārah, 15:25.

[50] William of Tyre, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, 2:125.

[51] Ibid, 2:126-127.

[52] Ibid, 2:127-128.

[53] Ibid, 2:127.

[54] Fulcher of Chartes, Tārīkh al-Ḥamlah ila al-Quds, 75.

[55] Jonathan Riley Smith, al-Ḥamlah al-Ṣalībiyyah, 221.

[56] Ernest Barker, al-Ḥurūb al-Ṣalībiyyah, 149.

[57] Ibid, 153.

[58] William James Durant,  Qiṣṣat al-Haḍārah, 15:67.


Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: